Tuesday, 8 November 2016

Karena akhirnya kita hanya menjadi bagian dari rintik hujan yang jatuh kemarin lusa. Lalu mengalir hingga lautan.
Pada hari ini, kita telah tak menjadi apa-apa. Hujan kali ini pun hampa.
Aku termenung, menunggu yang tak tahu kapan tiba.
Akankah rintik air itu akan kembali menjadi hujan, ataukah hanya menjadi air yang tertutup buih air laut di samudra? Aku tak tahu.

Friday, 14 October 2016

Memeluk Kehilangan



Image result for memeluk kehilangan

Hanya yang pernah datang yang akhirnya akan hilang
Hanya yang pernah ada yang akhirnya akan tiada.
Hingga akhirnya kita menyadari rasa kehilangan hadir setelah pergi.
Perasaan kosong yang menyeruak hingga menjadikannya hampa.
Hingga akhirnya kita menyadari bahwa perasaan kehilangan tak pernah menjadikan kita baik-baik saja.
Hingga akhirnya kita sadar bahwa melepaskan itu lebih sulit daripada menerima.
Hingga akhirnya kita memiliki yang sebenarnya tidak kita miliki.
Hingga akhirnya apa yang kita miliki pergi.
Hingga akhirnya kita sadar bahwa kita tak pernah punya apa-apa.
Hingga akhirnya kita selalu merasakan kehilangan pada apa yang pergi dari kita.
Meskipun sesungguhnya tak lagi dapat di genggam tak selalu menjadikannya sebuah kehilangan.

Saturday, 10 September 2016

Reruntuhan telah membiarkan ruangan ini berantakan. Hancur tak beraturan. Menjadi kumpulan debu yang tak pernah kau usap.
Tak perlu kau tata ulang, sudah terlalu hancur berkeping-keping. Tinggal kau keruk dan buang semuanya.
Tak apa aku menjadi miskin, biarkan ruangan ini hampa hingga akhirnya mati rasa.

Sunday, 21 August 2016

.

Karena hidup merupakan satu permulaan. Mulai menapaki jejak baru dengan segala tatanan yang sering berubah-ubah.
Melewati hal baru yang tak pernah kita lalui sebelumnya. Mencoba hal baru dengan tidak coba-coba.
Karena hidup tak hanya bernafas. Hidup tak sesederhana itu, karena hidup perlu di isi sebagaimana kita mengisi tabungan untuk bekal kita di hari tua. Seperti halnya sarapan, yang menjadi bekal energi untuk memulai pencarian sesuatu hingga keujung hari.

Wednesday, 3 August 2016

Pemulihan



Karena kita tak harus berpura-pura lupa hanya untuk mehilangkan luka. Hingga pada saat yang tepat, goresan akan segera memudar dan diri dapat memaafkan hatinya yang sempat begitu sakit.
Karena waktu akan selalu melaju sampai waktu yang tak pernah dapat kita tentukan. Hingga pada saat yang tepat, kita akan menuai apa yang kita tanam. Hingga pada saatnya kita tahu bahwa semua yang terjadi tak pernah ada yang sia-sia. Hingga akhirnya yang pergi memang bukan untuk kita miliki meskipun pada hakikatnya kita tak pernah memiliki apapun.

Wednesday, 20 July 2016

Hingga suatu malam, tatapanmu membuatku harus berbohong. Aku harus berpura-pura menggali asa yang tak pernah aku tanam sebelumnya.
Kau terlalu jauh menaruh harap untukku, sampai kau tak menyadari bahwa aku akan mati dalam tumpukan kenangan yang telah kau taruh dalam peti.
Dan tahukah kau, bahwa senja memberi pertanda, matahari tak akan lama lagi meniggalkan langit.

Dan semua perpisahan akan terjadi pada waktunya. Pada saat yang tepat hingga menjadikannya bermakna.



Saturday, 18 June 2016

dan waktu tak pernah berjalan seutuhnya dengan hal yang sama.
Setiap detiknya, pasti ada bagian yang berbeda, entah cuaca, suasana, atau apapun yang ada didalamnya.
Hari ini, 18 Juni 2016. Hujan mengguyur kota dan suasana menjadi lebih sejuk dan khidmat.
Memanjatkan doa yang tulus seraya memohon agar umur ini tak sia-sia.
Biar saja cukup Tuhan yang tahu seluruh isi doanya.
Seperti tahun sebelumnya, aku amat mensyukuri setiap hela nafas, detak jantung dan denyut kehidupan yang telah dijalani. Semoga perjalanan ini dapat berakhir pada samudra yang terbaik.
Dan 22 tahun hidup semoga tak menjadi hampa.

Tuesday, 31 May 2016

Rindu Tak Berujung, NBJ 2016

Jika aku harus menghapusmu dari hati, itu tak semudah saat harus pura-pura tersenyum ketika ada orang lain yang menanyakan tentangmu padaku.
Ribuan jam tanpamu telah aku lalui meski aku tak pernah ingin seperti ini.
Ratusan hari telah aku lewati sendiri.
Aku pura-pura tak terluka. Aku pura-pura tak mencinta. Hingga suatu waktu telah membangkitkan seluruh kenanganku tentangmu, tentang kita.
Aku bodoh, teramat bodoh ketika aku pernah berfikir bahwa aku harus mengubur semuanya tentangmu agar aku tak merasakan sakit. Tapi semua hal itu semakin membuatku luka. Kehilanganmu saja sudah membuat luka menganga, apalagi aku harus melupakanmu, membuat luka itu semakin besar.
Sesempat angin menyapu kulit, secepat itu pula aku dapat mengingat lagi tentangmu.
Aku butuh waktu hingga luka itu sembuh.
Aku butuh kamu, setidaknya hanya sekedar kata pamit.
Perpisahan, bukan masalah terlalu cepat atau belum siap, tapi masalah kekosongan jiwa yang tiba-tiba hadir dengan lubang yang amat besar secara sekaligus.
...
Dan, Aku mencintaimu,

Thursday, 26 May 2016



Aku merasa hampa ketika sapaanmu setiap pagi menjadi tiada. Sebuah ke’basa-basi’an yang selalu aku nantikan keberadaannya.
Hariku kosong. Otakku kosong. Tanpamu, tanpa cerita darimu. Aku hanya penyendiri yang tak pernah beranjak dari meja yang menghadap ke  jendela. Aku menjadi penyendiri yang teramat sendiri. Kali ini tanpamu, aku makin merasa seperti wadah yang kosong, tanpa air, tanpa udara, tanpa apapun didalamnya. Sudikah kau mengisi wadah itu kembali? Sudikah kau membagi ceritamu lagi padaku seperti dulu?
Kita telah berada pada titik kesibukan manusia modern yang dewasa. Menghadapi setumpuk pekerjaan yang berhujung lelah. Aku tahu ini akan kita lalui dari jauh-jauh hari, bahkan saat sebelum aku memelukmu.
Hingga aku merancang untuk sebisa mungkin akhir dari setumpuk pekerjaanku bukan lelah, tapi kamu. Hingga aku terlalu sibuk berencana lalu kamu pergi dalam bayangan yang aku tak pernah sadari akan datang secepat ini. Hingga akhirnya aku tetap berhujung pada lelah.
Nampaknya, aku merindukanmu kembali, dalam bisu, dalam hening, dalam gelap hingga mataku tak tahu bahwa aku sedang menangisi kerinduan ini.

Wednesday, 4 May 2016

Akhirnya, aku harus belajar mencintai lagi. Menatap wajahnya lekat dan berusaha menghadirkannya dalam hati.
Memang, cinta tak tahu kapan datang, tapi semoga, padamu lah aku berlabuh.

Tuesday, 26 April 2016

Suatu ketika aku menyadari bahwa aku harus berjalan sendiri. Menjadi orang asing diantara orang-orang yang saling mengenali.
Semuanya, segalanya, hanya satu jalan dan itu aku sendiri.
Ini sebuah keegoisan pola pikir ketika kerumunan orang hanya beriak saja, tanpa melakukan sesuatu.
Aku bukan tak mau menikmatihidup, hanya saja kebahagianku sedikit berbeda untuk kali ini.
Maka kali ini aku hendak berpamitan padamu.

Thursday, 21 April 2016

Matahari kembali bersembunyi dalam gelap langit. Lalu aku hanya duduk dibalik jendela.
Aku merasa kehilangan sebuah jejak karenanya.
Aku merasa sesak hingga setengah nafasku hampir hilang.
Aku ingin menangis tapi tak tahu gegara apa.
Aku kehilangan kau dan cahayanya.

Tuesday, 19 April 2016

"aku menjadi gila ketika aku tak dapat menulis apapun untukmu, padahal jelas-jelas aku merindukannmu sangat dalam".

Saturday, 16 April 2016

Hai, aku selalu ingin berkata-kata padamu. Tapi apa daya, lidahku kali ini kelu. Jadi biarkan aku menulis saja untukmu.

Hari ini entah hari kesekian untukku berjarak denganmu.
Sama, sedari kemarin lusa aku ingin pulang menemuimu.
Tak hanya gegara rindu, tapi disini sangat membosankan, terutama tanpamu.
Setiap pagi aku harus terbangun dengan susah payah. Kadang harus dibantu orang hanya untuk membuka jendela.
Aku suka jendela terbuka saat pagi datang.
Lalu siangnya harus bertemu dengan orang yang sampai sekarang aku tak tahu namanya. Andai saja itu kau, mungkin terasa lebih menyenangkan.
Kemudian saat malam datang, aku tak bisa tertidur nyenyak. Saat suasana hening, detak jantungku terdengar tak beraturan.
Dan kembali lagi ke pagi yang sama.

Tapi percayalah, hari ini sudah lebih baik.
Dan mungkin lusa, aku bisa berbicara padamu banyak hal, aku janji.

"."

Tuesday, 12 April 2016

Pagi ini aku hanya butuh kau untuk hidup.
Di luar sana terlalu banyak manusia menyebalkan yang aku temui.
Aku lelah jika harus memberikan pengertian dan perhatian kepada mereka.
Jika kau akan berjanji datang hari ini, akupun akan berjanji untuk melewati hari ini dengan baik-baik saja.
Coklat hangat dan sepotong roti semoga akan menjadi pengganjal agar aku tak terlalu merindukanmu.

Wednesday, 6 April 2016

Jangankan untuk mengadu, menangis dihadapannya pun aku tak mampu.
Entah malu atau gegara aku tak begitu ingin kau ikut pilu.
Biarkan saja tangis itu kusimpan rapat-rapat dalam penghujung malam.
Saat kau terlelap dalam pelukan malam.
Lalu aku mengakhiri sajak dengan tangisan.

Tuesday, 5 April 2016

Jika suatu waktu aku memperhatikanmu dalam-dalam, mungkin aku menemukan sosok "aku" hadir pada dirimu.
Ketika itu, kau mulai bisa merasa seperti aku.
Lalu tiba-tiba kau dapat mencium aroma parfum yang biasa ku pakai.
Akhirnya kau menangis juga ketika akupun menangis ditempat yang berbeda.

Tanpa memberi perintah, seluruh sel tubuh telah bergerak dengan sendirinya. Sama seperti yang aku lakukan ditempat yang berbeda.

Kemudian waktu, kau hampir mengelak terhadap semua itu.
Kau dan Aku hampir tak mau mengakui apa yang kita rasakan setelah hari itu.

Masih sama, masih tetap sama. Hanya saja kau mulai merasa gengsi untuk mengakui atau bahkan akupun begitu.

Aku bukan peramal yang tahu isi lubuk hatimu. Biarlah kau sadari semuanya sendiri.

Sunday, 27 March 2016

Suatu waktu kamu bertemu dengan seseorang yang mencintaimu. Lalu ia memberikan cintanya padamu tanpa berharap apapun.
Kamu menerimanya begitu saja tanpa berfikir kamu bisa menjaga cintanya atau tidak.

Hingga suatu waktu, kamu menghancurkan cintanya dengan ataupun tak sengaja.
Kamu tak merasa bersalah hingga sang pemilik cinta itu merasa tersakiti, merasa hancur ketika cintanya hancur olehmu.

Kemudian orang itu pergi meninggalkanmu tanpa kamu sadari.
Kepergiannya tak membuat hatimu tersakiti.

Suatu malam setelah kejadian itu kamu merasa kesepian. Kamu mulai menyadari ketiadaanya disisimu.
Hingga akhirnya kamu sadar jika kamu manusia tak bertanggung jawab. Manusia yang takut kehilangan pengagum sehingga menerima cintanya tanpa berfikir.
Hingga akhirnya kamu sadar jika rasa sakit yang ia rasakan tak akan sesakit ini jika kau menolak untuk menerimanya dari awal. Menolak untuk menerima cinta dari pengagumu.

Friday, 25 March 2016

Aku merindukan matamu. Mata yang menatapku dalam.
Mata yang selalu kurindukan dalam setiap lelah. Karena matamu, memancarkan cinta yang tak pernah hilang.
Aku merindukan tatapanmu. Hanya dengan menatap dan tersenyum padaku, kau berhasil membawaku terbang.
Membawa semua angan indah terasa dalam tatapanmu.

Thursday, 24 March 2016

Kau selalu kuhindari hingga Tuhan meyakinkanku bahwa kau adalah satu dari sekian banyak hal agar aku hidup.
Bak udara, kehadiranmu tak pernah membosankan. Sekalipun kau terkadang seperti angin puyuh yang membuatku jatuh tersungkur ke tanah.

Monday, 21 March 2016

Bahu jalan kembali kering se akan tak terjadi apa-apa.
Tak pernah terjadi hujan deras dan tangis kehilangan.
Bahu jalan itu kering, se akan tak menyimpan cerita apa-apa.
Cerita pilu sebuah perpisahan yang ia saksikan semalam.

Ketika hujan deras menimpa bahu jalan dipinggiran kota. Kala itu berdampingan muda mudi yang berlari kecil mencari tempat berteduh.
Lalu tiba-tiba, pemudi itu jatuh dalam rintikan hujan.
Suasana hujan kala itu berubah, tak nampak keheningan seperti biasanya.
Sang pemuda berteriak meminta tolong, teriakan itupun memecah keheningan, namun tak ada satupun yang bergeming.
Akhirnya ia menggendong sang kekasih dipunggunya. Berlari menuju tempat teduh.
Ketika itu ia sadari, sang kekasih tak bernyawa lagi. Nafasnya hilang bersama angin dalam hujan. Ia menangis namun tak nampak. Batinnya menjerit diiringi petir yang menggelegar.

Malam itupun berakhir dalam duka.
Pagi datang dan bahu jalanpun telah mengering. Seakan tak pernah terjadi apa-apa. 

Sunday, 20 March 2016

Aku sangat ingin menangis saat ini.
Kau tak perlu bertanya kenapa.
Cukup peluk aku.

Ijinkan aku sedikit mengeluh dengan semua ini.
Kau tak perlu menasihatiku.
Cukup dengarkan aku.

Aku ingin teriak sekencang-kencangnya.
Hingga aku tak dapat mendengar tangisanku sendiri.
Hingga aku mendengar teriakan yang paling keras.

Tahukah kau apa yg aku rasakan kali ini?
Campur aduk, berantakan.

Friday, 18 March 2016

Akhirnya seperti yang aku bayangkan.
Jika kau tahu, aku begitu kesakitan.
Menopang tubuh dengan separuh tenaga.
Tanpamu, tanpa separuh jiwa.
Aku kesakitan, sangat kesakitan.
Ketika harus melangkah hanya dengan satu kaki, dan harus menggenggam dengan sebelah tangan.
Saat ini aku benar-benar kesakitan.
Sakit... Lelah...

Kau tahu aku akan seperti ini. Dan saat ini sudah tiba, aku hampir  setengah mati.

Thursday, 17 March 2016

Kembali kepada secangkir kopi, dan menikmatinya.

Senja itu, aku hampir berfikir bahwa kala itu aku hampir menuju titik hidup.
Mencapai sebuah bagian dimana aku bisa mendampingimu dalam waktu.
Namun semua harapan tiba-tiba hilang.
Aku tak mempercayai lagi.
Aku belum menemukan sandaran untuk berlabuh.
Akhirnya aku harus mendayung lagi lebih jauh.

Hingga detik ini, hingga aku menemukan secangkir kopi ini lagi, Aku masih belum menemukan tempat untuk berlabuh.
Karena kau tak mungkin untuk menjadi tempat terakhirku di bumi.
Cinta mulai menyatu dalam telaga embun.
Lalu menyentuh ujung jemari yang kesepian sedari malam.
Semua resah dalam hayal berharap tak terwujud.
Biarkan malam itu menenjarakannya dalam gelap.

Tuesday, 15 March 2016

Ketika suatu malam telah berhasil mempertemukan kita, kau memelukku erat.
Hingga kita tak melepas pelukan itu.
Hingga detak jantung berpadu dalam iringan waktu.
Akhirnya kau berhasil menyentuhku. Menyentuh hati yang telah lama takut terjamah. Hati yang takut terluka oleh manusia tak berhati.
Fajar mulai menampakan sedikit sinar. Lalu kita saling berjanji agar tetap saling merindu. Tetap saling merasa dengan jiwa. Tetap saling mengasihi dengan hati.
Tetap bersama melaju dengan waktu.
Aku merindumu, aku merindukan aroma tubuhmu, aku merindukan sentuhanmu, aku merindukan kecupanmu, aku merindukan pelukanmu, aku merindukan setiap bagian darimu.

Demi cinta dan seluruh kerinduan, aku menyayangimu hingga detik ini.
Aku tak semenyenangkan pagi. Ketika setiap orang dapat menggantungkan harap agar menemukan suatu hari yang bahagia hingga menjelang tidurnya.
Akupun tak seteduh senja. Ketika semua perasaan puitis hadir dan merasuk pada setiap sel otak.
Biarlah aku hanya sebatas angin. Terasa sesekali jika aku menyentuhmu. Hal yang tak nampak namun aku selalu hadir diantaramu.

Saturday, 12 March 2016

Langit-langit kamar ini makin terasa penuh.
Bayangan akan hadirmu selalu bertambah.
Ketika malam hampir membuatku terlelap, dan langit-langit kamar itu selalu berhasil membuatku mengenangmu dalam sebuah kerinduan.
Ketika kita sama-sama saling memeluk dalam hening.
Lalu kita saling berharap dapat bertemu dalam pelukan malam yang lain.

Saturday, 27 February 2016

Ketika aku menemukan sosok manusia lain di bumi ini, dan aku jatuh cinta.
Aku jatuh cinta, pada pria yang bahkan aku belum tahu namanya.
Pria itu, yang seminggu ini dipertemukan pada setiap jejak langkah menuju rumah.
Pria itu, membuatku jatuh hati. Mungkin gegara senyumnya, atau gegara dia berparas sepertimu?

Thursday, 25 February 2016

Tahukah kau pagi ini aku sangat berterimakasih atasmu.
Kali ini aku merasakan kebahagiaan atas yang kita lakukan semalam.
Tangismu semalam, semoga menjadi tangis terakhir untuk
ketidakbahagiaanmu.
Ucapanmu pagi ini, membuat manusia yang semalam kau tumpahi cerita merasa bahagia.
Atas ucapan terimakasihmu, aku merasa berharga.
Sungguh, senyumanmu pagi ini bukan gegaraku, namun kau memang pantas untuk tersenyum dan berbahagia.

Monday, 22 February 2016

Hujan malam ini memberikan sebuah getaran pada hati.
Membuatku terbangun ketika hampir saja terlelap dalam pangkuan malam.

Sunday, 21 February 2016

Bersabarlah...
Pagi ini aku masih berkutat dengan mu dan kertas-kertas itu.
Jangan paksa aku untuk melangkah cepat.
Karena aku masih ingin bercerita padamu tentang kita.
Aku masih punya utang padamu.
Seumur hidupmu.

Thursday, 18 February 2016

Air tak pernah berhenti mengalir
Sekalipun ada batu yg menghadang
Dan seiring waktu,
Air akan menemukan sebuah persimpangan.
Tidak untuk berhenti,
Hanya untuk singgah beberapa saat.

Kemudian, air itu mengalir lagi hingga jauh.
Hingga mencapai samudera.
Hingga air mencapai ujung perjalanannya.
Hingga ia tak berpindah lagi kemana-mana.
Hingga ia telah berada didalam akhir petualangannya.

Begitupun hidupmu, Shal.
Hari ini, mungkin sebuah titik persinggahan di perjalananmu.
Selamat menua, selamat berpetualang dengan aliran hidupmu hingga samudera yg kau inginkan.

Selamat Ulang Tahun, R. Shaly Kania.

Sunday, 14 February 2016

Aku bukan seseorang yang berada diujung dermaga sunyi. Menunggu sebuah kapal menghampiri untuk membawa diri pergi.
Aku hanya seorang yang sedang berusaha merakit sebuah perahu untuk mengarungi samudera.

Friday, 12 February 2016

Suatu waktu, aku dipersilakan olehNya untuk memulai semua ini. Membuka sebuah gerbang menuju tahap selanjutnya.
Mungkin Tuhan ingin aku juga yg mengakhirinya.
Anggap saja rencananya seperti itu.
Ini bukan sebuah lomba lari, ketika yang sampai lebih dulu itu yang terhebat.
Silakan melaju, aku bahagia melihatmu, sungguh.

Thursday, 11 February 2016

Akhirnya, air telah sampai disamudera yang luas. Setelah melewati berliku-liku sungai dan beragam rintangan.
Aku telah berada di ujung penantian. Penantian dalam memaknai hari bersama suara hati.
Aku mulai tahu rasanya sebuah duri yang menusuk hati tanpa harus menembus rusuk.
Kali ini, jiwa berusaha berlapang dada, selapang samudera yang berhasil dicapai oleh air.

Aku bukan pengingat yang baik, namun aku berhasil mengingat hal kecil yang mungkin oranglain tak akan ingat.

Tuesday, 9 February 2016

Untukmu yang sedang memimpikanku malam ini, percayalah aku merasakannya. Aku belum bisa tertidur karena kehadiranku dimimpimu. Aku tak bisa menciptakan mimpiku sendiri karena kau memimpikanku dan aku tak bisa tidur.

Untukmu yang sedang merindukanku, pagi nanti tolong sapa aku dengan bahasa kerinduanmu. Agar aku yakin bahwa kaulah yang merindukanku.

Detik ini, hangatnya selimut tak berhasil membiarkanku terlelap.

Wednesday, 3 February 2016

senja yang indah hadir begitu saja kepelupuk mata ketika aku mengenangmu.
Kini, kenangan tentangmu telah hadir diantaranya. Diantara senja yang jingga ini. Tak salah jika aku mencintai senja.
Kita pernah meneguk secangkir kopi bersama di kala senja. Lalu kita sedikit berbincang tentang masa depan. Masa depan ku, masa depan mu, masa depan kita.
Kita pernah berfikir bahwa kita kelak akan hidup bersama, dalam sebuah rumah yang tak begitu besar. Didepannya terdapat halaman kecil dan teras. tempat yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi dan berbincang, katamu.
Aku mengiyakan saja. Lalu kau meneguk kopinya lagi dan meneruskan cerita. Kau bilang jika nanti rumahnya sudah ada, kau ingin aku membuatkan kopi untukmu setiap hari. Kemudian menemanimu berbincang. Aku hanya tersenyum.
Kopi pun akhirnya hampir habis. Mulai terasa pahit dari ampas kopi itu. Lalu kau bilang "Jika kita tak memiliki masa depan yang sama, aku ikhlas, kamu juga ya"
Aku hanya mengangguk dan menatap senyummu setelah berkata seperti itu.
Senja, selalu merekam semua percakapan kita. Kini ucapanmu diakhir tegukan kopi pun terjadi. Kita tak memiliki masa depan yang sama. Dan seperti yang kau bilang, aku harus ikhlas.
Kali ini pada senja yang berbeda. Tanpamu, tanpa kopi itu. Aku hanya sekedar mengenang. Percayalah, aku ikhlas.

Tuesday, 2 February 2016

Orang gila ini akhirnya menyadari bahwa ia gila. Menyadari semua omongan-omongan gila yang ia ucapkan. Lalu sekarang ia sedang berpura-pura untuk waras.

Sunday, 31 January 2016

..



Dan biarkan hati tak bertuan ini meratapi nasibnya sebentar. Bersedih ataupun menangis sesaat untuk hatinya yang mulai rapuh.

Namun, ketika esok menjelang, semoga tuan sudi adanya untuk singgah menyapu kabut. Membiarkan setitik demi setitik pencerahan masuk pada jiwa si pemilik hati yang tak bertuan.