Thursday, 26 May 2016



Aku merasa hampa ketika sapaanmu setiap pagi menjadi tiada. Sebuah ke’basa-basi’an yang selalu aku nantikan keberadaannya.
Hariku kosong. Otakku kosong. Tanpamu, tanpa cerita darimu. Aku hanya penyendiri yang tak pernah beranjak dari meja yang menghadap ke  jendela. Aku menjadi penyendiri yang teramat sendiri. Kali ini tanpamu, aku makin merasa seperti wadah yang kosong, tanpa air, tanpa udara, tanpa apapun didalamnya. Sudikah kau mengisi wadah itu kembali? Sudikah kau membagi ceritamu lagi padaku seperti dulu?
Kita telah berada pada titik kesibukan manusia modern yang dewasa. Menghadapi setumpuk pekerjaan yang berhujung lelah. Aku tahu ini akan kita lalui dari jauh-jauh hari, bahkan saat sebelum aku memelukmu.
Hingga aku merancang untuk sebisa mungkin akhir dari setumpuk pekerjaanku bukan lelah, tapi kamu. Hingga aku terlalu sibuk berencana lalu kamu pergi dalam bayangan yang aku tak pernah sadari akan datang secepat ini. Hingga akhirnya aku tetap berhujung pada lelah.
Nampaknya, aku merindukanmu kembali, dalam bisu, dalam hening, dalam gelap hingga mataku tak tahu bahwa aku sedang menangisi kerinduan ini.

No comments:

Post a Comment