Aku merasa
hampa ketika sapaanmu setiap pagi menjadi tiada. Sebuah ke’basa-basi’an yang
selalu aku nantikan keberadaannya.
Hariku kosong.
Otakku kosong. Tanpamu, tanpa cerita darimu. Aku hanya penyendiri yang tak
pernah beranjak dari meja yang menghadap ke
jendela. Aku menjadi penyendiri yang teramat sendiri. Kali ini tanpamu,
aku makin merasa seperti wadah yang kosong, tanpa air, tanpa udara, tanpa
apapun didalamnya. Sudikah kau mengisi wadah itu kembali? Sudikah kau membagi
ceritamu lagi padaku seperti dulu?
Kita telah
berada pada titik kesibukan manusia modern yang dewasa. Menghadapi setumpuk
pekerjaan yang berhujung lelah. Aku tahu ini akan kita lalui dari jauh-jauh hari,
bahkan saat sebelum aku memelukmu.
Hingga aku
merancang untuk sebisa mungkin akhir dari setumpuk pekerjaanku bukan lelah,
tapi kamu. Hingga aku terlalu sibuk berencana lalu kamu pergi dalam bayangan
yang aku tak pernah sadari akan datang secepat ini. Hingga akhirnya aku tetap
berhujung pada lelah.
Nampaknya,
aku merindukanmu kembali, dalam bisu, dalam hening, dalam gelap hingga mataku
tak tahu bahwa aku sedang menangisi kerinduan ini.
No comments:
Post a Comment