Sunday, 27 December 2015

Aku tak bisa berlama-lama menyentuh nadimu. Merasakan setiap detak jantungmu di dadaku. Maafkan, aku tak bisa mendampingi setiap hela nafasmu.
Tapi kelak pada suatu pagi, aku akan duduk disampingmu dengan secangkir teh hangat untukmu. Lalu kita berdua menikmati pagi dalam sebuah pelukan.

Sunday, 20 December 2015

Senja,
Aku merindukan setiap hadirmu. Setiap sapuan angin sejuk yang menyapu kulit. Aku merindukannya.
Cahaya yang membiarkanku tetap dapat melihat meskipun matahari hendak pulang meninggalkan siang.
Aku merindukanmu, senja.
Hingga detik ini, aku tak menemukan penggantimu disetiap sudut jalan yang aku lalui.
Tahukah kau, senja? Aku tak pernah mau menggantimu dengan apapun. Namun kau selalu pergi didalam gelap malam. Lalu kau membiarkanku berharap agar kau kembali. Hingga detik ini.
Aku tak pernah mau menggantimu dengan yang lain. Semua akan terasa berbeda jika bukan kau, senja.
Kali ini, aku sangat mengharapmu kembali. Menemani aku dalam sebuah perenungan.
Senja, kau tak akan mengabaikan harapanku, bukan?
Maka, kembalilah barang sejenak.

Saturday, 19 December 2015

Firasat

Firasat adalah sebuah pertanda dari alam, dari cuaca, dari angin yang hendak menyampaikan pesan dari hari esok. Pesan yang harus diterima dengan rasa, diraba dengan seluruh raga agar tak salah menerjemahkan. Dan firasat, hadir dengan bahasanya tersendiri, kepadaku, kepadamu, kepada kalian juga mungkin.
Namun terkadang, kita sering melupakan bahasa firasat itu sendiri. Hingga akhirnya kita merasa gagu, merasa bisu untuk membacanya.
Dan suatu ketika, firasat itu datang bak angin kencang. Lalu kita hanya bisa duduk dan memandangi, tanpa tahu maksudnya apa, tanpa tahu harus berbuat apa. Di saat itulah kita tak akan pernah tahu (lagi) jika ranting itu akan roboh. Padahal melalui angin, ia telah memberi kabar bahwa ia sudah terlalu rapuh untuk tetap mendampingi pohon.
Aku takut, aku lupa dengan bahasa firasat itu. Dan aku takut jika angin malam ini menyampaikan pesan melalui firasat padaku dan aku tak paham. Apa mungkin ini pesan dari hari esokmu? Entahlah, aku mulai lupa bahasa firasat nampaknya. Tapi semoga kamu tetap baik-baik saja esok.

Thursday, 17 December 2015


Sepenggal dari yang baru dikerjakan. Semoga tidak ada hambatan dari segala penjuru arah mata angin.

Tuesday, 15 December 2015

aku menjadi telaga tanpa warna hingga mentari  memberikan bias cahaya menjadikan permukaanya nampak berwarna. Muncul lukisan pelangi di atasnya.
Dan telagapun tak akan seindah itu jika mentari tak memberikan sinarnya.
Semua ini tak akan pernah terwujud hingga semuanya mampu saling mendukung dan ikhlas memberi.
Seperti kita, saling menemukan dan memberi makna. hingga aku menjadi telaga berwarna karenamu.

Aku meramu cinta tanpa tahu akan rasanya nanti.
Kita menjalani ini tanpa ujung, tanpa ada pikiran bahwa kita akan berakhir.
Terimakasih atas segala jamuanmu hingga malam ini. Aku bersyukur atas segala yang kamu hidangkan. Cinta, rindu, sayang, dan jiwamu.
Aku bersyukur atasmu.

Friday, 11 December 2015

Dan nanti malam, ku sediakan secangkir kopi untukmu, bersama waktu yang tak akan berujung. Hingga fajar akan menghentikan kegelapan malam. Tenanglah, cerita tentangmu tak akan pernah berujung.

Thursday, 10 December 2015

Mawar pun tak seindah senyumanmu ketika hujan deras itu mulai reda. Lalu kau menggenggam tanganku seraya berlari dalam rintik sisa hujan itu. Dingin kemudian menyeruak keseluruh tubuh, hingga ujung jemari kaku tak bergerak. Yang aku rasa hanya dingin, dan genggamanmu kala itu.
Dulu, kita sama-sama menyukai hujan. Kebersamaan kita selalu diiringinya. dengan gemericik air yang sama dan senja yang hampir sama. Kita rela berlama-lama dibawahnya. Hujan pun tak pernah memecah sebuah kerinduan, namun tawa selalu berhasil memecah keheningan hujan.
Namun, kala itu kau tak membiarkan kita berlama-lama didalamnya. Aku tahu kau masih menyukai hujan, tapi aku tak bisa berhujan denganmu lagi.
Aku terlalu sibuk memikirkan kita. Bahkan untuk menikmati hujan denganmu hanya sesekali.
Biarlah, itu menjadi 'kekanak-kanakan' kita yang terekam pada setiap memori dari warna pelangi. Mungkin kelak, anak kita yang meneruskan 'kekanak-kanakan' kita ini.
Ya, semoga saja.

Friday, 4 December 2015

Setiap jejak langkah, lalu kau beri makna.
Aku sedalam itu mengartikan sebuah pijakan. Ini tak sekedar langkah. Dan getaran setiap jejak memberikan arti pada setiap celah cerita. Akankah getaran itu memperbaiki cerita ini? Ataukah sebaliknya?
Ini terlalu buram untuk diambil kepastiannya.
Aku secemas ini pada jejak. Lalu kau tak pernah bisa menghentikan kecemasan ini. Tak apa.

Thursday, 3 December 2015

Aku menyayangimu utuh. Karena Tuhan membiarkan aku menyayangi tanpa ada satupun jiwa lain yang aku sayangi.
Sama kalanya seperti ketika Tuhan menghadirkanmu tanpa ada satupun orang yang dapat membuatku terbelalak.
Kamu satu, dan satu-satunya. Dari Tuhan, untukku.
Maka, ijinkanlah aku mendekap erat tubuhmu untuk malam ini.
Aku ingin kau tahu, betapa bersyukurnya aku menyayangimu. Meskipun aku tak pernah tahu isi hatimu sebenarnya. Biarlah, itu urusanmu dengan Tuhan. Semoga kau se-bersyukur aku.

Tuesday, 10 November 2015

Kita sama-sama belajar merangkai kata kala itu.
Kita mengeja kata per kata hingga fasih benar.
Lalu, kita mulai menyusunnya sesuka hati.
Aku dengan gayaku, lalu kau dengan seleramu sendiri.
Akhirnya, kata-kata itu telah tersusun.
Kau mengirimiku, dan akupun.
Kita sama-sama saling menafsirkan.
Dan kitapun tersenyum bersamaan meski ditempat yang berbeda.

Monday, 9 November 2015

Dan rasa, tak pernah berganti atau berpaling.
Aku masih merasakan hal yang sama.
Tahukah kau? Aku masih melakukan kebiasaan kita
Sungguh, rasa ini tetap sama.
Hanya saja rasa itu mungkin terhalang sesuatu.

Monday, 2 November 2015

Aku telah berjanji kepada malam untuk tetap menitipkan bahagiamu di dalam sinar bintang yang abdi. Aku tak akan mengingkari itu. Percayalah..
Dan dari ufuk timur, selalu bersedia menyambut senyum dan bahagiamu. Percayalah, harapanku selalu ada didalam sela-sela cahaya keabadian itu.

Saturday, 31 October 2015

Ini titik lelah, ketika raga mulai berada dipersimpangan jenuh dan lelah. Aku tak bermaksud menyerah. Namun kali ini, biarkan aku beristirahat sejenak. Bersandar pada bahu yang menopang segala keresahan.
Aku sesak, entah gegara apa. Aku ingin menangis, namun mata ini kering, bak sungai dalam kemarau panjang. Sudahlah, aku lelah.
Biarkan waktu ini terhenti, Tuhan. Aku ingin beristirahat. Barang sehari saja.

Wednesday, 21 October 2015

Sebait kata dari ujung sana. Sebait rasa yang menunggu untuk disampaikan. Sebait doa yang menunggu untuk dikabulkan. Sepasang raga yang menunggu untuk dipertemukan. Dan, sebait janji yang menunggu untuk ditepati. Aku rindu.
Seutas tali mengantarkan pesan dari angin sebrang. Pesan yang manis dari senja dibalik perbukitan. Dari tempat kau memijak bumi saat ini.
Dan ini, pesan termanis yang aku dapat. Tanpa suara, tanpa perlu banyak berkata, kau membuat satu sentuhan lembut (lagi). Aku selalu menikmati itu dan segalanya darimu.

Sunday, 18 October 2015

Malam ini, aku masih meneguk kopi yang sama. Kopi yang tersaji bersamaan dengan tulisan tentangmu berawal.
Setiap tegukannya masih terasa khas. Dan begitupun setiap bait saat aku menikmatinya.
Ini kebiasaan yang sudah sangat lampau. Aku memulainya dengan begitu saja.
Ini tak akan pernah berakhir, karena aku sudah dilanda candu, kepada kopi ini dan setiap bait yang tercipta gegaramu.
Tulisan, tak sekedar kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat, lalu baris, lalu halaman, lalu buku, lalu buku-buku.
Semua jadi sebuah rangkaian alur waktu yang tercatat sebagai cerita.
Aku melakukannya.

Sunday, 4 October 2015

Ini sebuah berlian. Aku titipkan padamu untuk kau taruh digenggaman. Tak usah kau masukan dalam kotak. Biarkan, biarkan saja berlian itu digenggamanmu. Jika orang lain tahu kau sedang menggenggam berlian, biarkan. Mungkin mereka memperhatikan apa yang kau genggam. Tak perlu kau umbar nerlian itu, cukup kau jaga saja, sebaik yang kau bisa.

Saturday, 3 October 2015

Pagi selalu tak membiarkan aku untuk bernafas lega. Karena setiap aku menarik nafas, rindu selalu menyergap dada, dan itu membuat sesak, sungguh.
Ini rindu yang selalu hadir begitu saja, takdiundang namun selalu ada, dan ini membuat sesak, sungguh.
Aku tak ingin merindukanmu, namun ini lah yang terjadi. Setiap pagi ketika menghelas nafas, rindu ini membuatku sesak, sungguh.

Friday, 2 October 2015

Ini tak sebatas rindu. Ini sebuah penantian dari jemari yang kesepian. Kosongnya genggaman ini telah membiarkan rindu mengisi setiap celahnya.
Aku yang kala itu masih bisa menggenggammu erat. Selalu menjadi hal yang aku nanti. Setiap kali tangan kita saling bersentuhan, aku hanya ingin menggenggamnya erat lalu berkata, "Aku bersyukur akan semua ini dan aku bersyukur atas keberadaan kita dengan segalanya yang terjadi pada kita, Aku menyayangimu."

Tuesday, 29 September 2015

Aku bukan tak mempercayaimu, ini hanya sebuah kekhawatiran, boleh kan? Aku tahu hati ini selalu kamu jaga, yaa begitulah seperti biasanya. Namun angin pada musim ini nampaknya lebih kencang. Aku takut tiba-tiba angin menjatuhkannya.

Friday, 25 September 2015

Malamku masih sama saja. Diam-diam hati selalu mengucap keras doa untuk kalian yang membuatku selalu menaruh rindu.
Ini sebuah kebiasaan malam yang tak akan pernah bisa berubah. Karena ini tak akan pernah usang. Tuhan selalu membiarkan rindu itu tetap tumbuh subur, hingga akhirnya kebiasaan ini tak akan pernah hilang.
Selamat malam kalian, Aku menunggu pertemuan kita.

Thursday, 24 September 2015

Aku percaya kamu tak akan benar-benar melakukan itu. Kamu tak sebodoh itu, kan? Ya, bodoh untuk tetap menunggu angin agar bisa terlihat. Lucunya itu tak dapat terjadi. Kamu terus menunggu tanpa melakukan apapun. Ini konyol.

Saturday, 19 September 2015

Aku bisa merindukanmu sebanyak apapun yang aku mau. Namun, aku tak bisa selalu bersamamu. Itu hanya kuasa Sang Pemilik Waktu. Jadi, jika aku menemuimu aku selalu ingin membuat itu menjadi waktu terbaik untuk kita.

Monday, 14 September 2015

Saya tak banyak bercerita tentang orang lain di blog ini. Karena apa? karena saya tidak tahu cerita orang lain itu seperti apa. Saya masih belum banyak tahu cerita tentang orang lain. Saya takut menceritakan hal yang saya belum tahu benar. Jadi, saya tidak menceritakan tentang orang lain. Atau mungkin saya memang terlalu egois untuk tidak bercerita tentang orang lain? Yaa bisa saja. Ini semua tentang saya dan apa yang saya rasa. Ini hanya sebuah sudut pandang dari diri saya sendiri. Jadi jika ada pendapat berbeda dari orang lain yaa sah sah saja. Sudut pandang dan persepsi memang tidak ada yang salah.
Tulisan di blog ini, adalah sepenggal cerita yang memenuhi pikiran saya, hatipun nampaknya. Saya suka menuliskan semua itu, karena memang saya tak begitu pandai mengingat.Jika oranglain menilai pribadi saya dari tulisan di blog ini, sekali lagi, sah sah saja. Itu hak masing-masing pribadi.
Tulisan di blog ini, sering kali memuat tentang pikiran dan perasaan saya terhadap orang lain. Namun saya tak menjelaskan secara gamblang itu untuk siapa. Kenapa? Karena itu cara saya berkomunikasi dengan orang orang yg saya maksud, orang orang yg ada dipikiran dan hati saya. Pasti orang yg saya maksud paham akan apa yang saya sampaikan.
Saya tak bermaksud untuk menulis hal yang puitis, romantis atau apapun yang orang lain nilai. Saya hanya ingin menulis ini, boleh kah? Itu hak saya, bukan?
Saya tak menuntut oranglaulin menyukai tulisan saya yang jauh dari sempurna ini. Sungguh, saya hanya ingin menulis. Namun, jika ada yang menyukai tulisan saya, terimakasih. Itu menjadi sebuah bonus bagi saya.

Selamat membaca semuanya. Terimakasih telah menyisihkan waktu untuk membaca tulisan saya. Terimakasih untuk orang orang yang ada dipikiran dan hati saya karena telah mengerti apa yang saya ingin sampaikan melalu tulisan di blog ini. Terimakasih. Ini semua sungguh benar benar tulus.
Aku selalu memiliki cara berbeda untuk mencintaimu. Karena kamu terlampau istimewa untuk diperlakukan biasa-biasa saja.

Saturday, 12 September 2015

Telah banyak untaian rindu ini hadir. Ini semua gegaramu. Ya, kamu yang telah membuat rindu ini tak henti. Hingga akjirnya membuat untaian rindu itu menjadi sebuah kebiasaan.

Tuesday, 8 September 2015

Aku mengenalmu belum begitu lama. Maaf jika aku lancang menilaimu. Lelaki yang telah tulus menerima semua kekurangan.
Mungkin kita bertemu sudah lama, hampir beberapa tahun yang lalu.Dan takdir Tuhan membawa kita kesini. Ke dalam sebuah pertemuan yang aku tak tahu jika aku akan menemuimu disini.
Kamu, lelaki yang membiarkanku percaya akan takdir. Kamu, lelaki yang tak pernah ngotot untuk kita bisa bersanding, namun kamu tetap selalu membuatku merasa dimiliki.
Ini bukan hanya sekedar pujian. Aku mengagumi pribadimu.
Dan kamu, selalu membuat cinta ini beriringan dengan logika.
Terimakasih telah mengajarkan banyak hal, Ham. Terimakasih telah menjaga perasaan ini, karena kamu memang pandai menjaga perasaan wanita kan? Ya, seperti yang selalu ibumu ceritakan kepadaku.
Tetap menjadi dirimu yang selalu ku kagumi.

Sunday, 6 September 2015

Dan kita, selalu mengisi pagi dan malam berbarengan.
Malamku selalu terbiasa kau usik hanya sekedar berkata 'aku belum bisa tidur'. Lalu aku biasa mengirimu ucapan selamat pagi meskipun aku tahu kamu belum terbangun sepagi itu.

Saturday, 5 September 2015

Malam ini, terbangun dari sebuah ciumanpanjang darimu. Sebuah kehangatan kasih sayang yang kala itu menemani malam kita. Sepanjang malam, berdua. Saling memeluk dengan rasa rindu yang makin menyeruak direlung hati.
Masih kah itu terasa? Jika aku, ya. Rangkulanmu kala itu selalu menapak, bagaikan jejak yang tak akan pernah hilang.
Masih kah rindu itu ada? Kita selalu bilang bahwa rasa rindu itu tak pernah habis. Pertemuan kita selalu mengisi ulang rasa rindu, selalu begitu dan begitu sampai seterusnya.

Wednesday, 2 September 2015

Aku tak pernah sebercanda itu mengenai hidup. Hidup terlalu singkat hanya untuk ditertawakan. Semua itu terlalu membuat hidup sia-sia. Kita tak bisa berleha-leha hari ini, agar masa depan yang tak akan lama lagi kita pijak, tak berjalan biasa-biasa saja. Biarkan masa depan kita menjadi hal yang luar biasa, dan kita berbahagia didalamnya.

Tuesday, 1 September 2015

Ini tak melulu mengenai cinta seorang kekasih. Hati tak pernah sesempit itu. Ini tak melulu tentang sebuah penantian panjang. Hanya sebagian cerita yang hadir pada beberapa waktu hidup kita.

Monday, 31 August 2015

aku terlalu biasa menikmati senja. Setiap warna jingga itu muncul, aku bersegera menghampiri senja itu, untuk sekedar menatapnya dari kejauhan.
Dan suatu ketika senja itu tertutup kabut, aku tak bisa apa-apa. Hanya termangu sepi seakan kehilangan separuh jiwa. Ya senja itu menghilang dengan separuh jiwa. Rongga dada menjadi terasa sesak hanya agar dapat tetap bernafas. Aku hampir mati kali ini, melihat kabut itu merenggut senja.

Saturday, 29 August 2015

Mamah, selamat ulangtahun.Tak ada yang bisa aku beri selain doa dan harapan agar kau selalu dilimpahi keberkahan hidup oleh Sang Pemilik kehidupan.
Terimakasih karena selalu menjadi mamah yang terbaik. Jadi manusia super, yang selalu menjaga kami dengan ikhlas. Orang yang selalu mendukung apapun yang aku lakukan ketika semua orang berkata tidak.
Kali ini, diusia Mamah yang telah menapaki setengah abad, ijinkan aku untuk bisa membahagiakanmu, walaupun hingga kini aku belum menginjak kesuksesan yang selalu kau ucap, kau doakan, kau harapkan untukku. Semoga Tuhan dapat memberikan waktu yang banyak untuk Mamah agar dapat melihat aku sukses, seperti yang Mamah harapkan.
Mah, selamat ulangtahun.

Tuesday, 25 August 2015

hampir saja ketiadaan ini mengurungkan semua rencana yang telah disusun jauh-jauh hari, ataukah memang akan urung? Ini terlalu sulit diprediksi akan berakhir seperti apa. Cerita ini mungkin saja tak berakhir sesuai dengan ekspektasi., ataukah mungkin aku hanya ketakutan saja cerita ini tak berjalan seperti yg aku mau?
Ini semua terlalu sulit untuk diprediksi.

Friday, 21 August 2015

Celah jendela itu membiarkan sebuah kerinduan menyusup melalui angin malam ini. Angin terasa lebih erat memelukku
Ini kerinduan gegaramu.

Saturday, 15 August 2015

pagi ini, masih tetap sama.Tanpa perlu bersentuhan, embun itu berhasil memberikan kesejukan melalui suaramu. Membasahi tanah kerinduan gegaramu. Syukurlah kau masih ingin menjaga hati ini, sebuah padang yg kini ditumbuhi kerinduan lagi dan lagi.
Aku menungguimu disini, menunggu padang jiwa itu kau sentuh lagi, kau dekap dan kau jaga dari dekat

Thursday, 13 August 2015

Akhirnya semua hujan ini dapat terlewati dengan ikhlas. Bersamamu atau tanpamu.
Lalu pelangi membiarkan hujan selalu indah pada ujungnya, sederas apapun hujannya.
Dan hujan pun tetap meninggalkan sisa-sisa tetes air yg sesekali dapat disentuh untuk mengenang kita.

Thursday, 18 June 2015

Dan waktu, telah bergulir lama. Hingga hari ini aku menapaki jejak hingga 21 tahun lamanya. Menghela nafas dan hidup, melukis jejak.
18 Juni 1994, 08.00, yang katanya pada saat itu aku terlahir didunia. Aku tak mengingat benar, atau mungkin aku memang tak ingat. Lalu, setiap tahunnya menjadi hari yang katanya hari ulangtahunku. Entahlah, aku tak ingat benar.
Sungguh, aku tak ingin berulangtahun, aku tak ingin mengulang tahun-tahun lalu dengan segala kekurangannya. Ucapan ulangtahun itu membuat bahagia karena aku merasa kau dan kalian mengingatku. Ya, aku bahagia kalian mengingatku.
Dan hari ini, 21 tahun aku menapaki hari, menghela nafas dan hidup. Dengan segala perubahannya hingga hari ini, yang dianggap menjadi salahsatu titik pendewasaan diri.
Akhirnya, aku tetap selalu merasa bersuyukur telah menapaki tanggal ini.

Wednesday, 17 June 2015

dan kita, tak akan pernah merasakan hal yang sama meskipun ditempat yang sama dan situasi yang sama. Karena waktu, selalu menjadi bagian yang tak dapat diulang kembali.
Lalu, kita hanya bisa mengenang saat yang selalu ingin kita ingat.
Aku mencoba menapaki pendewasaan diri, dari setiap detak jantung, hela nafas, dan umur yang semakin menua.
Aku tak berubah gegaramu, aku hanya menelusuri benak yang sesak dengan seluruh pemikirannya. Lalu aku, menjadi lebih baik untuk esok, hari yang tak pernah aku tahu akan seperti apa.

Wednesday, 13 May 2015

Dan lagi, kau masih tetap menjadi bait-bait cerita yg aku tulis hingga detik ini. Meski pun mungkin kau mulai bosan membaca atau mendengar celotehku yang tak penting.
Aku masih disini, masih menjadi orang yg penyendiri dan hanya menjelajah gegara cerita yg kau sampaikan padaku, setiap detik
Aku masih di sini, masih menjadi org yg menulisimu sebait sajak setiap harinya.
Aku masih di sini, mencoba memaparkan semua rasa yang bercampur tak beraturan.
Aku masih di sini, meski pun aku merasa sekarang kau tak disini.

Thursday, 15 January 2015

alam bersenandung menyanyikan sebuah kerinduan. dibalik kata yang tertulis tak beraturan. tak tertata namun indah. aku mengungkap hati dengan ini. sebuah pengantar rasa yang mungkin oranglain tak mengerti. cukup aku dan kamu saja, ya kita. tulisan ini teruntukmu. jiwa yang tak pernah membuat hati berhenti bertutur, merasa, dan berkarya.