Mawar pun tak seindah senyumanmu ketika hujan deras itu mulai reda. Lalu kau menggenggam tanganku seraya berlari dalam rintik sisa hujan itu. Dingin kemudian menyeruak keseluruh tubuh, hingga ujung jemari kaku tak bergerak. Yang aku rasa hanya dingin, dan genggamanmu kala itu.
Dulu, kita sama-sama menyukai hujan. Kebersamaan kita selalu diiringinya. dengan gemericik air yang sama dan senja yang hampir sama. Kita rela berlama-lama dibawahnya. Hujan pun tak pernah memecah sebuah kerinduan, namun tawa selalu berhasil memecah keheningan hujan.
Namun, kala itu kau tak membiarkan kita berlama-lama didalamnya. Aku tahu kau masih menyukai hujan, tapi aku tak bisa berhujan denganmu lagi.
Aku terlalu sibuk memikirkan kita. Bahkan untuk menikmati hujan denganmu hanya sesekali.
Biarlah, itu menjadi 'kekanak-kanakan' kita yang terekam pada setiap memori dari warna pelangi. Mungkin kelak, anak kita yang meneruskan 'kekanak-kanakan' kita ini.
Ya, semoga saja.
Dulu, kita sama-sama menyukai hujan. Kebersamaan kita selalu diiringinya. dengan gemericik air yang sama dan senja yang hampir sama. Kita rela berlama-lama dibawahnya. Hujan pun tak pernah memecah sebuah kerinduan, namun tawa selalu berhasil memecah keheningan hujan.
Namun, kala itu kau tak membiarkan kita berlama-lama didalamnya. Aku tahu kau masih menyukai hujan, tapi aku tak bisa berhujan denganmu lagi.
Aku terlalu sibuk memikirkan kita. Bahkan untuk menikmati hujan denganmu hanya sesekali.
Biarlah, itu menjadi 'kekanak-kanakan' kita yang terekam pada setiap memori dari warna pelangi. Mungkin kelak, anak kita yang meneruskan 'kekanak-kanakan' kita ini.
Ya, semoga saja.
No comments:
Post a Comment