Selamat pagi, selamat merindu lagi untukku yang tak pernah
merasa cukup untuk merindukanmu. Tapi begitulah. Aku seperti dedaunan pagi ini
yang menahan tetes embun agar tak jatuh ketanah. Namun, pada akhirnya embun itu
jatuh juga. Seperti rinduku yang tak tertahan.
Udara pagi ini begitu mengerti apa yang aku rasa. Semerbak
rindu menyebar begitu saja kesetiap sudut ruangan. Sudut hati juga nampaknya.
Harum tubuhmu muncul juga seiring dengan angin. Entah itu ilusi atau bukan. Aku tak mengetahui itu secara jelas.
Yang aku tahu, kamu bukan ilusi. Ya, kamu nyata. Orang yang nyatanya selalu
memapahku. Orang yang nyatanya bisa membuatku tersenyum. Orang yang nyatanya
bisa membuatku menangis. Orang yang
nyatanya selalu aku rindukan. Dan orang yang nyatanya tetap menjadi segalaku,
sampai saat ini.
No comments:
Post a Comment