Sunday, 19 October 2014

Kita tak akan pernah saling mengikat seperti rantai. Dan kita tak akan pernah merasa saling memberi. Sekuat apapun kita berharap, kita tak akan pernah melakukan hal yang sama. Semakin begitu, semakin tak berguna.

Thursday, 3 July 2014



Anggap sajalah aku tak pernah bertemu. Kita tak pernah berpapasan. Aku tak pernah menemui hamparan padang yang terpapar oleh kenangan senja.
Aku merasa asing, terasing. Terkadang, aku tak pernah mengenalmu. Mendadak ketika air hujan yg mengering menguap karena matahari. Ya mungkin aku kepanasan juga sampai kenangan itu menguap dan aku lupa. Aku tak pernah merasa setaktahu ini. Entahlah, pikirku seperti pohon yg seketika gugur, begitu juga aku.

Tuesday, 1 July 2014

.. Dan akhirnya, hidup tak pernah sesederhana bernafas.

Saturday, 7 June 2014

Matahari pagi ini masih muncul dengan biasa. Perlahan memantulkan cahayanya pada embun yang tetap biasa berbaris di tiap helai daunnya. Hangatnya mulai terasa seperti biasa setelah ku tatap cahayanya bersama dengan rasa rindu yang semerbak. Dan, seperti biasa, aku bisa merindukanmu sepagi ini. Pagi yang seperti biasa hadir untuk menghabiskan rasa rindu yang aku tahu sebenarnya itu tak akan pernah habis. Selamat pagi, aku terbiasa merindukanmu.

Wednesday, 4 June 2014

Aku berada di sebuah padang mahaluas yang belum sempat dijamah. Aku berada disana, tapi aku tak disana. Aku menangis, tapi mataku tak basah. Aku tertawa, tapi mulutku sepi. Sampai pada akhirnya aku tahu, kalau aku tak tahu.

Saturday, 31 May 2014

Dan, ucapan selamat pagi masih tetap dinanti ke-basa basi-annya,

Monday, 5 May 2014

Dan kini, mungkin kita baru tersadar, atau aku. Membutuhkan waktu yg benar2 hanya ada kita didalamnya, aku dan kamu, juga ruang yg menyekat kita dari selain kita. Ya, benar-benar hanya kita. Kita yg selalu menginginkan hal yg sama meskipun nampaknya aku lebih sulit bertutur. Jika kamu inginkan itu, anggap saja iya, karena aku dan kamu telah menjadi kita yg menyatu. Menyatu dan larut didalam waktu yg menyertai kita.

Thursday, 24 April 2014

Janji yg pertama yg seharusnya terlebih dahulu ditepati, saya pikir.

Wednesday, 23 April 2014

Dan ketika cirinya tak nampak lagi, mungkin saat itu lelah mendera jiwa yg sedang berlayar, entah tanpa peta atau bahkan tanpa nahkoda. Arus laut yg membuat itu berjalan semakin gila. Ya, anggap saja begitu. Kosong, dan bergerak tak tentu arah, ya, gila.

Tuesday, 22 April 2014

Aku yakin Tuhan mengutusmu untuk berjalan denganku beriringan. Hidup kita yang telah berjodoh, kaa. Dan waktu, tak pernah benar-benar habis, kita hanya melewatinya. Ya, dan aku tak pernah ingin waktu itu habis. Biarkan semua yang kita lakukan menjadi rutinitas seperti matahari yang rutin menyinari bumi. Begitu juga kita, berjalan beriringan dengan waktu yg tak pernah berhenti menemani. Ya, kita sangat menginginkan waktu itu, untuk aku dan segala rutinitas denganmu. Dan aku butuh kamu.
Dan tak sepantasnya menggenggam embun dgn erat, dan akhirnya ia akan lebih cepat jatuh. Merasakan semua haru ketika itu harus benar-benar menghilang. Embun dan segalanya tak pernah hadir abadi, namun biar ku nikmati sekarang meski tak pernah tau apa yg akan terjadi sedetik berikutnya kehidupan.

Monday, 21 April 2014

. . .

Aku menemui dihujung doa malam ini, bertemu dengan kesejukan abadi yg menyelimuti, membiarkan kita saling merasa saat kita menatap langit yang sama, merindu saat jarak yang berjauhan. Nikmati ini, dan rasakan bahwa kita sudah benar-benar terikat kaa. Temui aku dihujung mimpi malam ini.

Tuesday, 18 March 2014

Aku bersamamu setiap waktu. Hingga waktu yang tak kamu sadari, aku hadir diantaranya.

Tuesday, 4 March 2014

Dan saat ini, aku masih hanya bisa berbicara dengan senja. Meskipun bisu, sedikitnya senja masih menemaniku dalam sendunya. Sesekali menyapu airmataku yang hampir jatuh ketanah. Semoga, senja itu dapat mengembalikanmu padaku, utuh, dan kamu yang biasanya menemaniku menghabiskan senja.

Tuesday, 25 February 2014

.


Aku terlalu menyayangimu disetiap detiknya. Namun, kadangkala waktu tak mengizinkan kita saling bersentuhan. Aku selalu berharap waktu itu hadir untukku, untuk kita yang saling merasakan hal yang sama.

Tenanglah, aku selalu menunggumu disini. Ditempat yang menemani kita untuk melewati waktu. Sendiri, dan aku tetap menunggu. Singgahilah aku beberapa saat. Sesempat pelangi yang muncul setelah hujan reda dan membuatku merasa nyaman sesaat sebelum pelangi itu kembali menghilang dan tak nampak, seperti kamu.

Aku harap kamu benar-benar kembali ketempat ini. Tempat aku menunggumu setiap harinya. Meskipun aku tak pernah tahu pasti akan kah kamu kembali kesini. Bersama segala hal yang aku rindukan dari dirimu. Tenanglah, aku selalu menunggumu disini. Ditempat yang telah membiarkan kita saling merindu.

Aku terlalu banyak mengoceh tentang dirimu. Dengan semua kata-kata yang keluar dari jemari yang sedih dan kebingungan. Sepi pun tak pernah tinggalkan jemari itu. Dan kembali, akhirnya aku tak pernah bisa berbuat apa-apa. Bergumam tentang apa yang aku rasa, dan terdiam.

Aku benar-benar merindukanmu saat ini dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Singgahilah aku sesempat yang kamu bisa. Atau biarkan saja waktu yang akan membawamu kembali ketempat ini. Tempat yang hingga saat ini masih beraromamu, dan aku merindukannya.
 
Telah habislah kata-kata kekosongan dalam kesendirian. Aku tak pernah bergurau dengan semua ini. Semoga kamu bisa menafsirkan kata-kata kerinduan ini. Dan merasakan hal yang sama juga, seperti aku, yang tetap menyayangi segalamu.

Monday, 17 February 2014

Aku tak pernah benar-benar menghilang

Aku tak pernah benar-benar menghilang. Aku hadir disetiap kamu mengingatku. Walaupun hanya sedikit nantinya. Biarkan aku menjagamu dari jauh. Melalui burung-burung yang berkicau dilangit sembari menghiburmu dengan tariannya. Meskipun sebenarnya aku tak pernah bisa menghiburmu nampaknya. Mereka akan menjagamu lebih baik dari aku. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Nanti, bunga-bunga akan selalu ingin mendengar ceritamu. Mereka akan menjadi pendengar setiamu. Seperti aku, yang tak pernah bosan mendengan cerita-ceritamu setiap harinya. Mereka akn tersenyum ketika mendengar cerita bahagiamu, bersedih ketika mendengar cerita yang pilu, dan mereka akan tertawa bersamamu ketika kamu menceritakan hal konyol. Ya, mereka akan menyukai mendengar setiap ceritamu seperti aku. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Kelak, hujan akan menemanimu menangis. Tapi aku tak pernah ingin itu terjadi. Tahuilah, aku juga menangis dengan hujan itu. Seperti biasanya, aku tak pernah melarangmu menangis. Dan nanti, pelangi yang muncul dari perbukitan akan mengusap airmatamu. Lalu, pelangi itu dan langitnya yang cerah akan membuatmu kembali tersenyum. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Lalu, ketika nanti resah muncul. Entah gegara petir atau gemuruh dari angin yang lalu-lalang, atau juga dari ilalang yang saling bergesekan menyapu kulitmu. Akan ku biarkan senja yang memelukmu erat, membuatmu lebih tenang dan merasa nyaman. Rasaku juga kan memelukmu bersama senja itu. Dekaplah, dan aku harap itu akan membuatmu sedikit mengenangku nanti. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.


Aku, selalu hadir di setiap helaan nafas ketika kamu mengingatku. Bersama kicauan burung, langit, bunga-bunga, hujan, pelangi, angin  dan senja. Aku tetap menyayangimu meskipun nanti kita berjarak. Kelak, anginpun akan mengalirkan setiap rasa kita walaupun aku tak menggenggam tanganmu. Aku akan tetap merasakn apa yang kamu rasakan. Mereka akan selalu mengabariku tentangmu. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Sunday, 9 February 2014



Semuanya telah silih berganti. Udara yang hadir disekitar, cuaca, hujan dan mentari yang. Itu akan berjalan dengan sendirinya. Seperti saat waktu yang mempertemukan kita di persimpangan hidup. Dan berubah juga dengan bergulirnya detik. Tuhan nampaknya memang mengijinkan kita bersama meskipun kita tidak benar-benar selalu bersama. Tapi, aku bersyukur mengenalmu.
Lalu, hidup kita mengalir dengan waktu. Dari hal yang nampaknya sepele, hingga hal yang tidak sepele mungkin. Namun aku tak pernah bisa mengkotak-kotakan hal yang berhubungan denganmu. Apapun itu, berharga lebih dari nilai yang orang lain sematkan. Seperti perkenalan kita yang selalu berharga.
Telah terikat hati, mungkin dari saat perkenalan itu. kuasaMu yang membiarkan itu terjadi. Berkaitan seperti daun dengan dahan. Itu mungkin dapat terlepas. Tapi, seperti daun juga, jika itu terlepas, berarti sudah tak bernyawa, begitu juga aku.


Selamat pagi, selamat merindu lagi untukku yang tak pernah merasa cukup untuk merindukanmu. Tapi begitulah. Aku seperti dedaunan pagi ini yang menahan tetes embun agar tak jatuh ketanah. Namun, pada akhirnya embun itu jatuh juga. Seperti rinduku yang tak tertahan.
Udara pagi ini begitu mengerti apa yang aku rasa. Semerbak rindu menyebar begitu saja kesetiap sudut ruangan. Sudut hati juga nampaknya. Harum tubuhmu muncul juga seiring dengan angin. Entah itu ilusi atau  bukan. Aku tak mengetahui itu secara jelas. Yang aku tahu, kamu bukan ilusi. Ya, kamu nyata. Orang yang nyatanya selalu memapahku. Orang yang nyatanya bisa membuatku tersenyum. Orang yang nyatanya bisa membuatku menangis.  Orang yang nyatanya selalu aku rindukan. Dan orang yang nyatanya tetap menjadi segalaku, sampai saat ini.

Thursday, 23 January 2014

Dan kini, aku berada dihujung keheningan, merasa jatuh yang membuatku amat terluka, entah gegaramu atau itu hanya muncul karena diriku saja. Menangis, namun sebenarnya ku tak ingin menangis,. Dan aku juga tak ingin kamu menangisiku yang jelas-jelas tak pernah memberimu apa-apa. Ya, mungkin kamu dapat melihat lukaku yang tak nampak. Mungkin kamu sempat melihat mataku yang berkaca-kaca karena menahan tangis. Kamu hampir melihat segalaku, ka.

Sepertinya telah banyak salah yang aku buat terhadapmu, seperti tangis, luka, khawatir yang datang gegaraku. Dan mungkin jika janji-janjiku tak kutepati, semakin membuatmu kecewa, ka. Aku mungkin tak akan bisa menepati janjiku untuk ada setiap kamu rindu, karena nanti, aku sudah ditempat berbeda, jauh darimu, dari tempat yang selalu ingin kita singgahi berdua. Maafkan aku, ka. Mungkin nanti, kita akan mengenangnya ditempat berbeda, dengan tidak bersentuhan sedikitpun. Aku hanya melihatmu jauh. Ya, bersama malaikat yang nantinya akan menemani aku.