Tuesday, 25 February 2014

.


Aku terlalu menyayangimu disetiap detiknya. Namun, kadangkala waktu tak mengizinkan kita saling bersentuhan. Aku selalu berharap waktu itu hadir untukku, untuk kita yang saling merasakan hal yang sama.

Tenanglah, aku selalu menunggumu disini. Ditempat yang menemani kita untuk melewati waktu. Sendiri, dan aku tetap menunggu. Singgahilah aku beberapa saat. Sesempat pelangi yang muncul setelah hujan reda dan membuatku merasa nyaman sesaat sebelum pelangi itu kembali menghilang dan tak nampak, seperti kamu.

Aku harap kamu benar-benar kembali ketempat ini. Tempat aku menunggumu setiap harinya. Meskipun aku tak pernah tahu pasti akan kah kamu kembali kesini. Bersama segala hal yang aku rindukan dari dirimu. Tenanglah, aku selalu menunggumu disini. Ditempat yang telah membiarkan kita saling merindu.

Aku terlalu banyak mengoceh tentang dirimu. Dengan semua kata-kata yang keluar dari jemari yang sedih dan kebingungan. Sepi pun tak pernah tinggalkan jemari itu. Dan kembali, akhirnya aku tak pernah bisa berbuat apa-apa. Bergumam tentang apa yang aku rasa, dan terdiam.

Aku benar-benar merindukanmu saat ini dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Singgahilah aku sesempat yang kamu bisa. Atau biarkan saja waktu yang akan membawamu kembali ketempat ini. Tempat yang hingga saat ini masih beraromamu, dan aku merindukannya.
 
Telah habislah kata-kata kekosongan dalam kesendirian. Aku tak pernah bergurau dengan semua ini. Semoga kamu bisa menafsirkan kata-kata kerinduan ini. Dan merasakan hal yang sama juga, seperti aku, yang tetap menyayangi segalamu.

Monday, 17 February 2014

Aku tak pernah benar-benar menghilang

Aku tak pernah benar-benar menghilang. Aku hadir disetiap kamu mengingatku. Walaupun hanya sedikit nantinya. Biarkan aku menjagamu dari jauh. Melalui burung-burung yang berkicau dilangit sembari menghiburmu dengan tariannya. Meskipun sebenarnya aku tak pernah bisa menghiburmu nampaknya. Mereka akan menjagamu lebih baik dari aku. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Nanti, bunga-bunga akan selalu ingin mendengar ceritamu. Mereka akan menjadi pendengar setiamu. Seperti aku, yang tak pernah bosan mendengan cerita-ceritamu setiap harinya. Mereka akn tersenyum ketika mendengar cerita bahagiamu, bersedih ketika mendengar cerita yang pilu, dan mereka akan tertawa bersamamu ketika kamu menceritakan hal konyol. Ya, mereka akan menyukai mendengar setiap ceritamu seperti aku. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Kelak, hujan akan menemanimu menangis. Tapi aku tak pernah ingin itu terjadi. Tahuilah, aku juga menangis dengan hujan itu. Seperti biasanya, aku tak pernah melarangmu menangis. Dan nanti, pelangi yang muncul dari perbukitan akan mengusap airmatamu. Lalu, pelangi itu dan langitnya yang cerah akan membuatmu kembali tersenyum. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Lalu, ketika nanti resah muncul. Entah gegara petir atau gemuruh dari angin yang lalu-lalang, atau juga dari ilalang yang saling bergesekan menyapu kulitmu. Akan ku biarkan senja yang memelukmu erat, membuatmu lebih tenang dan merasa nyaman. Rasaku juga kan memelukmu bersama senja itu. Dekaplah, dan aku harap itu akan membuatmu sedikit mengenangku nanti. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.


Aku, selalu hadir di setiap helaan nafas ketika kamu mengingatku. Bersama kicauan burung, langit, bunga-bunga, hujan, pelangi, angin  dan senja. Aku tetap menyayangimu meskipun nanti kita berjarak. Kelak, anginpun akan mengalirkan setiap rasa kita walaupun aku tak menggenggam tanganmu. Aku akan tetap merasakn apa yang kamu rasakan. Mereka akan selalu mengabariku tentangmu. Tenanglah, aku tak pernah benar-benar menghilang.

Sunday, 9 February 2014



Semuanya telah silih berganti. Udara yang hadir disekitar, cuaca, hujan dan mentari yang. Itu akan berjalan dengan sendirinya. Seperti saat waktu yang mempertemukan kita di persimpangan hidup. Dan berubah juga dengan bergulirnya detik. Tuhan nampaknya memang mengijinkan kita bersama meskipun kita tidak benar-benar selalu bersama. Tapi, aku bersyukur mengenalmu.
Lalu, hidup kita mengalir dengan waktu. Dari hal yang nampaknya sepele, hingga hal yang tidak sepele mungkin. Namun aku tak pernah bisa mengkotak-kotakan hal yang berhubungan denganmu. Apapun itu, berharga lebih dari nilai yang orang lain sematkan. Seperti perkenalan kita yang selalu berharga.
Telah terikat hati, mungkin dari saat perkenalan itu. kuasaMu yang membiarkan itu terjadi. Berkaitan seperti daun dengan dahan. Itu mungkin dapat terlepas. Tapi, seperti daun juga, jika itu terlepas, berarti sudah tak bernyawa, begitu juga aku.


Selamat pagi, selamat merindu lagi untukku yang tak pernah merasa cukup untuk merindukanmu. Tapi begitulah. Aku seperti dedaunan pagi ini yang menahan tetes embun agar tak jatuh ketanah. Namun, pada akhirnya embun itu jatuh juga. Seperti rinduku yang tak tertahan.
Udara pagi ini begitu mengerti apa yang aku rasa. Semerbak rindu menyebar begitu saja kesetiap sudut ruangan. Sudut hati juga nampaknya. Harum tubuhmu muncul juga seiring dengan angin. Entah itu ilusi atau  bukan. Aku tak mengetahui itu secara jelas. Yang aku tahu, kamu bukan ilusi. Ya, kamu nyata. Orang yang nyatanya selalu memapahku. Orang yang nyatanya bisa membuatku tersenyum. Orang yang nyatanya bisa membuatku menangis.  Orang yang nyatanya selalu aku rindukan. Dan orang yang nyatanya tetap menjadi segalaku, sampai saat ini.