Sunday, 27 March 2016

Suatu waktu kamu bertemu dengan seseorang yang mencintaimu. Lalu ia memberikan cintanya padamu tanpa berharap apapun.
Kamu menerimanya begitu saja tanpa berfikir kamu bisa menjaga cintanya atau tidak.

Hingga suatu waktu, kamu menghancurkan cintanya dengan ataupun tak sengaja.
Kamu tak merasa bersalah hingga sang pemilik cinta itu merasa tersakiti, merasa hancur ketika cintanya hancur olehmu.

Kemudian orang itu pergi meninggalkanmu tanpa kamu sadari.
Kepergiannya tak membuat hatimu tersakiti.

Suatu malam setelah kejadian itu kamu merasa kesepian. Kamu mulai menyadari ketiadaanya disisimu.
Hingga akhirnya kamu sadar jika kamu manusia tak bertanggung jawab. Manusia yang takut kehilangan pengagum sehingga menerima cintanya tanpa berfikir.
Hingga akhirnya kamu sadar jika rasa sakit yang ia rasakan tak akan sesakit ini jika kau menolak untuk menerimanya dari awal. Menolak untuk menerima cinta dari pengagumu.

Friday, 25 March 2016

Aku merindukan matamu. Mata yang menatapku dalam.
Mata yang selalu kurindukan dalam setiap lelah. Karena matamu, memancarkan cinta yang tak pernah hilang.
Aku merindukan tatapanmu. Hanya dengan menatap dan tersenyum padaku, kau berhasil membawaku terbang.
Membawa semua angan indah terasa dalam tatapanmu.

Thursday, 24 March 2016

Kau selalu kuhindari hingga Tuhan meyakinkanku bahwa kau adalah satu dari sekian banyak hal agar aku hidup.
Bak udara, kehadiranmu tak pernah membosankan. Sekalipun kau terkadang seperti angin puyuh yang membuatku jatuh tersungkur ke tanah.

Monday, 21 March 2016

Bahu jalan kembali kering se akan tak terjadi apa-apa.
Tak pernah terjadi hujan deras dan tangis kehilangan.
Bahu jalan itu kering, se akan tak menyimpan cerita apa-apa.
Cerita pilu sebuah perpisahan yang ia saksikan semalam.

Ketika hujan deras menimpa bahu jalan dipinggiran kota. Kala itu berdampingan muda mudi yang berlari kecil mencari tempat berteduh.
Lalu tiba-tiba, pemudi itu jatuh dalam rintikan hujan.
Suasana hujan kala itu berubah, tak nampak keheningan seperti biasanya.
Sang pemuda berteriak meminta tolong, teriakan itupun memecah keheningan, namun tak ada satupun yang bergeming.
Akhirnya ia menggendong sang kekasih dipunggunya. Berlari menuju tempat teduh.
Ketika itu ia sadari, sang kekasih tak bernyawa lagi. Nafasnya hilang bersama angin dalam hujan. Ia menangis namun tak nampak. Batinnya menjerit diiringi petir yang menggelegar.

Malam itupun berakhir dalam duka.
Pagi datang dan bahu jalanpun telah mengering. Seakan tak pernah terjadi apa-apa. 

Sunday, 20 March 2016

Aku sangat ingin menangis saat ini.
Kau tak perlu bertanya kenapa.
Cukup peluk aku.

Ijinkan aku sedikit mengeluh dengan semua ini.
Kau tak perlu menasihatiku.
Cukup dengarkan aku.

Aku ingin teriak sekencang-kencangnya.
Hingga aku tak dapat mendengar tangisanku sendiri.
Hingga aku mendengar teriakan yang paling keras.

Tahukah kau apa yg aku rasakan kali ini?
Campur aduk, berantakan.

Friday, 18 March 2016

Akhirnya seperti yang aku bayangkan.
Jika kau tahu, aku begitu kesakitan.
Menopang tubuh dengan separuh tenaga.
Tanpamu, tanpa separuh jiwa.
Aku kesakitan, sangat kesakitan.
Ketika harus melangkah hanya dengan satu kaki, dan harus menggenggam dengan sebelah tangan.
Saat ini aku benar-benar kesakitan.
Sakit... Lelah...

Kau tahu aku akan seperti ini. Dan saat ini sudah tiba, aku hampir  setengah mati.

Thursday, 17 March 2016

Kembali kepada secangkir kopi, dan menikmatinya.

Senja itu, aku hampir berfikir bahwa kala itu aku hampir menuju titik hidup.
Mencapai sebuah bagian dimana aku bisa mendampingimu dalam waktu.
Namun semua harapan tiba-tiba hilang.
Aku tak mempercayai lagi.
Aku belum menemukan sandaran untuk berlabuh.
Akhirnya aku harus mendayung lagi lebih jauh.

Hingga detik ini, hingga aku menemukan secangkir kopi ini lagi, Aku masih belum menemukan tempat untuk berlabuh.
Karena kau tak mungkin untuk menjadi tempat terakhirku di bumi.
Cinta mulai menyatu dalam telaga embun.
Lalu menyentuh ujung jemari yang kesepian sedari malam.
Semua resah dalam hayal berharap tak terwujud.
Biarkan malam itu menenjarakannya dalam gelap.

Tuesday, 15 March 2016

Ketika suatu malam telah berhasil mempertemukan kita, kau memelukku erat.
Hingga kita tak melepas pelukan itu.
Hingga detak jantung berpadu dalam iringan waktu.
Akhirnya kau berhasil menyentuhku. Menyentuh hati yang telah lama takut terjamah. Hati yang takut terluka oleh manusia tak berhati.
Fajar mulai menampakan sedikit sinar. Lalu kita saling berjanji agar tetap saling merindu. Tetap saling merasa dengan jiwa. Tetap saling mengasihi dengan hati.
Tetap bersama melaju dengan waktu.
Aku merindumu, aku merindukan aroma tubuhmu, aku merindukan sentuhanmu, aku merindukan kecupanmu, aku merindukan pelukanmu, aku merindukan setiap bagian darimu.

Demi cinta dan seluruh kerinduan, aku menyayangimu hingga detik ini.
Aku tak semenyenangkan pagi. Ketika setiap orang dapat menggantungkan harap agar menemukan suatu hari yang bahagia hingga menjelang tidurnya.
Akupun tak seteduh senja. Ketika semua perasaan puitis hadir dan merasuk pada setiap sel otak.
Biarlah aku hanya sebatas angin. Terasa sesekali jika aku menyentuhmu. Hal yang tak nampak namun aku selalu hadir diantaramu.

Saturday, 12 March 2016

Langit-langit kamar ini makin terasa penuh.
Bayangan akan hadirmu selalu bertambah.
Ketika malam hampir membuatku terlelap, dan langit-langit kamar itu selalu berhasil membuatku mengenangmu dalam sebuah kerinduan.
Ketika kita sama-sama saling memeluk dalam hening.
Lalu kita saling berharap dapat bertemu dalam pelukan malam yang lain.