Thursday, 23 August 2018

Yang tak dihiraukan

Terjaga dalam larut.
Aku merasakan kupu-kupu didalam perutku.
Oh, ini mungkin perasaanku saja.

Lebih dari sepekan ini terjadi.
Memikirkanmu dalam larut malam.
Pria itu, iya kamu.

Separuh malam, aku ditemani bayangmu.
Hingga separuhnya lagi, aku memimpikanmu.
Hingga esok paginya, aku menemuimu dalam sepi.

Mulutku sepi, mulutmu pun begitu.
Pikiranku berisik, beriak, bergemuruh.
Kupu-kupu dalam perutku, ah sudah.

Friday, 4 May 2018

..

Aku jatuh cinta padamu berkali-kali.
Meskipun setiap kita bertemu, aku selalu tak berani menatapmu.

Aku merindukanmu berkali-kali.
Meskipun kita sering bertemu.

Menjumpai pesanmu menjadi candu.
Hingga aku lupa bahwa ku belum menjadi halal untukmu.

Wahai engkau, aku titip namamu dalam doa.

Wednesday, 28 February 2018

Pada rindu yang bergelayutan.
Aku menunggumu dengan sabar.
Agar kau habiskan seluruhnya, lalu menunggu lagi berdatangan rindu yang baru.

Pada rindu yang bersemayam.
Sudikah kau pergi mencari tuan.
Agar dapat tertuntaskan malam ini,agar dada tak terlalu sesak.

Pada rindu yang menggebu.
Mataku sudah lelah tuk menunggui tuanmu.
Dari balik temaram bulan yang mulai menepi, seakan ingin tertidur jua.

Pada rindu.
Aku telah merasakan kesunyian malam ini.
Keheningan yang belum bertepi, hingga penghujung malam yang berganti pagi. 

Thursday, 4 January 2018

Sepenggal kisah rindu

Aku kepadanya menjadi bisu.
Tak cukup jua semediku tadi malam.
Tak berguna jua kata-kata yg sudah ku rangkai.

Keberanianku tak sekokoh tatapannya.
Tak kuasa membiarkan matanya menelisik hati yang kebingungan ini.
Ingin ku temui matanya, tapi ku jatuhkan lagi ketika ia tersenyum.

Padanya, aku rela menjatuhkan hati berkali-kali.
Padanya, aku jatuh cinta dalam keheningan.
Padanya, aku biarkan kalah dan pasrah.

Katanya, aku terlalu pandai merayu.
Nyatanya aku tak berucap apa-apa.
Lalu, kami hening.
Hingga akhirnya kata-kata memecah sunyi.
"Hai, Aku rindu."