Wednesday, 11 December 2019

CANDRAMAWA

Aku
Berasal dari pilu
Dihadang rintang dan belukar
Jalanan terjal dan berbatu
Kemasygulan yang terus berputar
Kegelapan menjadi sekutu

Kau
Lahir dari tawa
Kumpulan cahaya muncul dari balik peraduan
Mengelilingimu, menemani langkah
Benderang sepanjang jalan
Berandang menghadapi kehidupan

Kita
Menjadi harapan yang selalu ku semogakan
Doa yang selalu ku rapalkan
Cita-cita yang selalu ku usahakan
Warna yang semoga bisa bercampur
Mengijabkan aku dan kau melebur

Thursday, 23 August 2018

Yang tak dihiraukan

Terjaga dalam larut.
Aku merasakan kupu-kupu didalam perutku.
Oh, ini mungkin perasaanku saja.

Lebih dari sepekan ini terjadi.
Memikirkanmu dalam larut malam.
Pria itu, iya kamu.

Separuh malam, aku ditemani bayangmu.
Hingga separuhnya lagi, aku memimpikanmu.
Hingga esok paginya, aku menemuimu dalam sepi.

Mulutku sepi, mulutmu pun begitu.
Pikiranku berisik, beriak, bergemuruh.
Kupu-kupu dalam perutku, ah sudah.

Friday, 4 May 2018

..

Aku jatuh cinta padamu berkali-kali.
Meskipun setiap kita bertemu, aku selalu tak berani menatapmu.

Aku merindukanmu berkali-kali.
Meskipun kita sering bertemu.

Menjumpai pesanmu menjadi candu.
Hingga aku lupa bahwa ku belum menjadi halal untukmu.

Wahai engkau, aku titip namamu dalam doa.

Wednesday, 28 February 2018

Pada rindu yang bergelayutan.
Aku menunggumu dengan sabar.
Agar kau habiskan seluruhnya, lalu menunggu lagi berdatangan rindu yang baru.

Pada rindu yang bersemayam.
Sudikah kau pergi mencari tuan.
Agar dapat tertuntaskan malam ini,agar dada tak terlalu sesak.

Pada rindu yang menggebu.
Mataku sudah lelah tuk menunggui tuanmu.
Dari balik temaram bulan yang mulai menepi, seakan ingin tertidur jua.

Pada rindu.
Aku telah merasakan kesunyian malam ini.
Keheningan yang belum bertepi, hingga penghujung malam yang berganti pagi. 

Thursday, 4 January 2018

Sepenggal kisah rindu

Aku kepadanya menjadi bisu.
Tak cukup jua semediku tadi malam.
Tak berguna jua kata-kata yg sudah ku rangkai.

Keberanianku tak sekokoh tatapannya.
Tak kuasa membiarkan matanya menelisik hati yang kebingungan ini.
Ingin ku temui matanya, tapi ku jatuhkan lagi ketika ia tersenyum.

Padanya, aku rela menjatuhkan hati berkali-kali.
Padanya, aku jatuh cinta dalam keheningan.
Padanya, aku biarkan kalah dan pasrah.

Katanya, aku terlalu pandai merayu.
Nyatanya aku tak berucap apa-apa.
Lalu, kami hening.
Hingga akhirnya kata-kata memecah sunyi.
"Hai, Aku rindu."

Thursday, 12 October 2017

Luapan Hati

Kepadamu aku memilih untuk jatuh cinta lebih dalam.
Tak ragu aku, karena jarum jam pun tak pernah ingin memutar kembali jalannya.
Kian detik, kian mengalir semuanya.
Terhanyut dalam remah rasa. Tak menyadari bahwa itu karenamu.
Hingga aku tahu, memendamnya menjadikan itu lebih deras.
Aku menyerahkan semua padamu.
Alasan dari sejuta rindu.
Ku rangkum seluruhnya dalam sekuntum belati.
Entah akan kau hujamkan ke jantungku atau kau gunakan untuk membuka hatimu.

Sunday, 24 September 2017

Catatan secangkir teh.

Aku berjumpa dalam suasana yang sama.
Bercengkrama dengan kenanganmu dan secangkir teh hangat.
Kau sajikan perlahan di muka, lalu duduk di sampingku.
Kemudian kita mulai berbincang. Berangan tentang masa depan dan mencuri sedikit tatapan.
Aku merindukanmu. Merindukan aroma tubuhmu yang melintas terbawa angin sore.
Kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk duduk berdua. Sesekali kau bersandar pada bahuku dan kau tersenyum.
Tak ingin rasanya waktu berlalu. Namun cahaya senja sudah berganti. Teh pun telah habis.
Kau menawarkan untuk mengisinya kembali. Tapi, aku harus pergi. Membiarkan cangkir kosong itu terisi kerinduanku untuk lusa.
Aku beranjak, kau pun. Lalu kita saling melepas pelukan dan mengucap selamat tinggal.
Tahukah kau, ucapan itu selalu membuat hatiku tertinggal pada suasana itu, pada sore, pada secangkir teh dan aroma tubuhmu.