Sunday, 24 September 2017

Catatan secangkir teh.

Aku berjumpa dalam suasana yang sama.
Bercengkrama dengan kenanganmu dan secangkir teh hangat.
Kau sajikan perlahan di muka, lalu duduk di sampingku.
Kemudian kita mulai berbincang. Berangan tentang masa depan dan mencuri sedikit tatapan.
Aku merindukanmu. Merindukan aroma tubuhmu yang melintas terbawa angin sore.
Kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk duduk berdua. Sesekali kau bersandar pada bahuku dan kau tersenyum.
Tak ingin rasanya waktu berlalu. Namun cahaya senja sudah berganti. Teh pun telah habis.
Kau menawarkan untuk mengisinya kembali. Tapi, aku harus pergi. Membiarkan cangkir kosong itu terisi kerinduanku untuk lusa.
Aku beranjak, kau pun. Lalu kita saling melepas pelukan dan mengucap selamat tinggal.
Tahukah kau, ucapan itu selalu membuat hatiku tertinggal pada suasana itu, pada sore, pada secangkir teh dan aroma tubuhmu. 

Monday, 11 September 2017

Separuh Malam.

Dera lonceng memecah kesunyian,
Pada pagi buta saat kau masih mengigau tentang kita
Aku menatap wajahmu lekat

Disampingmu,
Aku menjadi gagu
Hanya untuk sekedar mengucap namamu

Lalu,  aku hanya terdiam
Bagai petapa yg menantikan pedoman
Untuk membangunkanmu dari igauan atau hanya melihatmu terpejam