Thursday, 12 October 2017

Luapan Hati

Kepadamu aku memilih untuk jatuh cinta lebih dalam.
Tak ragu aku, karena jarum jam pun tak pernah ingin memutar kembali jalannya.
Kian detik, kian mengalir semuanya.
Terhanyut dalam remah rasa. Tak menyadari bahwa itu karenamu.
Hingga aku tahu, memendamnya menjadikan itu lebih deras.
Aku menyerahkan semua padamu.
Alasan dari sejuta rindu.
Ku rangkum seluruhnya dalam sekuntum belati.
Entah akan kau hujamkan ke jantungku atau kau gunakan untuk membuka hatimu.

Sunday, 24 September 2017

Catatan secangkir teh.

Aku berjumpa dalam suasana yang sama.
Bercengkrama dengan kenanganmu dan secangkir teh hangat.
Kau sajikan perlahan di muka, lalu duduk di sampingku.
Kemudian kita mulai berbincang. Berangan tentang masa depan dan mencuri sedikit tatapan.
Aku merindukanmu. Merindukan aroma tubuhmu yang melintas terbawa angin sore.
Kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk duduk berdua. Sesekali kau bersandar pada bahuku dan kau tersenyum.
Tak ingin rasanya waktu berlalu. Namun cahaya senja sudah berganti. Teh pun telah habis.
Kau menawarkan untuk mengisinya kembali. Tapi, aku harus pergi. Membiarkan cangkir kosong itu terisi kerinduanku untuk lusa.
Aku beranjak, kau pun. Lalu kita saling melepas pelukan dan mengucap selamat tinggal.
Tahukah kau, ucapan itu selalu membuat hatiku tertinggal pada suasana itu, pada sore, pada secangkir teh dan aroma tubuhmu. 

Monday, 11 September 2017

Separuh Malam.

Dera lonceng memecah kesunyian,
Pada pagi buta saat kau masih mengigau tentang kita
Aku menatap wajahmu lekat

Disampingmu,
Aku menjadi gagu
Hanya untuk sekedar mengucap namamu

Lalu,  aku hanya terdiam
Bagai petapa yg menantikan pedoman
Untuk membangunkanmu dari igauan atau hanya melihatmu terpejam

Saturday, 22 July 2017

Sekali lagi untuk ke sekian kalinya

Aku jatuh cinta lagi pada tatapan matanya
Ratusan hari ku coba mengubur semua kenangan dalam benak. Pun tatapan itu menjelma menjadi ratusan lipat kenangan.
Aku jatuh padamu. Pada jiwa pencipta rindu. Pada pelupuk senja yg menguning keemasan.
Hingga esok hari, aku kembali bersimbah rindu.
Hingga lembaran surat cinta untukmu telah tersaji pada secangkir kopi saat senja.
Hingga aku berkali-kali menyebut cinta padamu setiap detiknya.
Hingga aku lupa bahwa aku tak pernah melupakanmu walau sedetik.

Sunday, 18 June 2017

23 tahun

18 Juni 2017,
Aku bersyukur atas hidup yg Engkau berikan.
Atas semua berkat, kasih sayang, dan pertolongan.
Maafkan aku atas segala keputusasaan dan prasangka buruk terhadapMu.
Terimakasih untuk nikmat hidup selama 23 tahun ini.
Iringi semua langkah kaki dan pemikiran tetap dalam jalan yg terbaik menurutMu.

Saturday, 18 March 2017

Mula Berganti



Laku lugu dalam sebuah perahu
Membawanya berlari tak henti
Namun ia tak pernah begerak
Pikirannya memaku semua langkah
Hingga akhirnya sepatah kata memercik
Berhenti….
Semua harus usai
Berlari hanya dalam pikirannya kini hanya masa lalu
Mencuat dalam cahaya dari mercusuar
Lugu kini berganti jadi lagu
Bernyanyi dengan pintu terbuka
Tak ada lagi jiwa terbelenggu
Tak akan lagi ragu memasung kata
Pandangan mata yang memicing
Suara bernada sumbang
Semuanya dikubur oleh debu dari langkah kakinya
Kini ia benar-benar melangkah.

Monday, 13 February 2017

menunggu kepulangan

Rindu menuju pelupuk senja membawaku selalu mengigau tentangmu. Padahal aku masih dalam hati yang membeku dalam hujan salju kemarin lusa.
Akankah kau menemuiku dengan secangkir kopi? Ya mungkin saja dapat mencairkan hati.
Jika kamu kerepotan, cukuplah membawa diri. Mungkin pelukan dapat lebih menghangatkan.
Jam 4 sore nanti, matahari mulai tergelincir. Ku harap kamu pun sedang berjalan menuju arah pulang.
Tak perlu berpakaian tebal dan menggunakan payung, karena hujan dan musim salju telah berlalu kemarin lusa.
Pulanglah, aku menunggumu di teras rumah.