senja yang indah hadir begitu saja kepelupuk mata ketika aku mengenangmu.
Kini, kenangan tentangmu telah hadir diantaranya. Diantara senja yang jingga ini. Tak salah jika aku mencintai senja.
Kita pernah meneguk secangkir kopi bersama di kala senja. Lalu kita sedikit berbincang tentang masa depan. Masa depan ku, masa depan mu, masa depan kita.
Kita pernah berfikir bahwa kita kelak akan hidup bersama, dalam sebuah rumah yang tak begitu besar. Didepannya terdapat halaman kecil dan teras. tempat yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi dan berbincang, katamu.
Aku mengiyakan saja. Lalu kau meneguk kopinya lagi dan meneruskan cerita. Kau bilang jika nanti rumahnya sudah ada, kau ingin aku membuatkan kopi untukmu setiap hari. Kemudian menemanimu berbincang. Aku hanya tersenyum.
Kopi pun akhirnya hampir habis. Mulai terasa pahit dari ampas kopi itu. Lalu kau bilang "Jika kita tak memiliki masa depan yang sama, aku ikhlas, kamu juga ya"
Aku hanya mengangguk dan menatap senyummu setelah berkata seperti itu.
Senja, selalu merekam semua percakapan kita. Kini ucapanmu diakhir tegukan kopi pun terjadi. Kita tak memiliki masa depan yang sama. Dan seperti yang kau bilang, aku harus ikhlas.
Kali ini pada senja yang berbeda. Tanpamu, tanpa kopi itu. Aku hanya sekedar mengenang. Percayalah, aku ikhlas.