Saturday, 27 February 2016

Ketika aku menemukan sosok manusia lain di bumi ini, dan aku jatuh cinta.
Aku jatuh cinta, pada pria yang bahkan aku belum tahu namanya.
Pria itu, yang seminggu ini dipertemukan pada setiap jejak langkah menuju rumah.
Pria itu, membuatku jatuh hati. Mungkin gegara senyumnya, atau gegara dia berparas sepertimu?

Thursday, 25 February 2016

Tahukah kau pagi ini aku sangat berterimakasih atasmu.
Kali ini aku merasakan kebahagiaan atas yang kita lakukan semalam.
Tangismu semalam, semoga menjadi tangis terakhir untuk
ketidakbahagiaanmu.
Ucapanmu pagi ini, membuat manusia yang semalam kau tumpahi cerita merasa bahagia.
Atas ucapan terimakasihmu, aku merasa berharga.
Sungguh, senyumanmu pagi ini bukan gegaraku, namun kau memang pantas untuk tersenyum dan berbahagia.

Monday, 22 February 2016

Hujan malam ini memberikan sebuah getaran pada hati.
Membuatku terbangun ketika hampir saja terlelap dalam pangkuan malam.

Sunday, 21 February 2016

Bersabarlah...
Pagi ini aku masih berkutat dengan mu dan kertas-kertas itu.
Jangan paksa aku untuk melangkah cepat.
Karena aku masih ingin bercerita padamu tentang kita.
Aku masih punya utang padamu.
Seumur hidupmu.

Thursday, 18 February 2016

Air tak pernah berhenti mengalir
Sekalipun ada batu yg menghadang
Dan seiring waktu,
Air akan menemukan sebuah persimpangan.
Tidak untuk berhenti,
Hanya untuk singgah beberapa saat.

Kemudian, air itu mengalir lagi hingga jauh.
Hingga mencapai samudera.
Hingga air mencapai ujung perjalanannya.
Hingga ia tak berpindah lagi kemana-mana.
Hingga ia telah berada didalam akhir petualangannya.

Begitupun hidupmu, Shal.
Hari ini, mungkin sebuah titik persinggahan di perjalananmu.
Selamat menua, selamat berpetualang dengan aliran hidupmu hingga samudera yg kau inginkan.

Selamat Ulang Tahun, R. Shaly Kania.

Sunday, 14 February 2016

Aku bukan seseorang yang berada diujung dermaga sunyi. Menunggu sebuah kapal menghampiri untuk membawa diri pergi.
Aku hanya seorang yang sedang berusaha merakit sebuah perahu untuk mengarungi samudera.

Friday, 12 February 2016

Suatu waktu, aku dipersilakan olehNya untuk memulai semua ini. Membuka sebuah gerbang menuju tahap selanjutnya.
Mungkin Tuhan ingin aku juga yg mengakhirinya.
Anggap saja rencananya seperti itu.
Ini bukan sebuah lomba lari, ketika yang sampai lebih dulu itu yang terhebat.
Silakan melaju, aku bahagia melihatmu, sungguh.

Thursday, 11 February 2016

Akhirnya, air telah sampai disamudera yang luas. Setelah melewati berliku-liku sungai dan beragam rintangan.
Aku telah berada di ujung penantian. Penantian dalam memaknai hari bersama suara hati.
Aku mulai tahu rasanya sebuah duri yang menusuk hati tanpa harus menembus rusuk.
Kali ini, jiwa berusaha berlapang dada, selapang samudera yang berhasil dicapai oleh air.

Aku bukan pengingat yang baik, namun aku berhasil mengingat hal kecil yang mungkin oranglain tak akan ingat.

Tuesday, 9 February 2016

Untukmu yang sedang memimpikanku malam ini, percayalah aku merasakannya. Aku belum bisa tertidur karena kehadiranku dimimpimu. Aku tak bisa menciptakan mimpiku sendiri karena kau memimpikanku dan aku tak bisa tidur.

Untukmu yang sedang merindukanku, pagi nanti tolong sapa aku dengan bahasa kerinduanmu. Agar aku yakin bahwa kaulah yang merindukanku.

Detik ini, hangatnya selimut tak berhasil membiarkanku terlelap.

Wednesday, 3 February 2016

senja yang indah hadir begitu saja kepelupuk mata ketika aku mengenangmu.
Kini, kenangan tentangmu telah hadir diantaranya. Diantara senja yang jingga ini. Tak salah jika aku mencintai senja.
Kita pernah meneguk secangkir kopi bersama di kala senja. Lalu kita sedikit berbincang tentang masa depan. Masa depan ku, masa depan mu, masa depan kita.
Kita pernah berfikir bahwa kita kelak akan hidup bersama, dalam sebuah rumah yang tak begitu besar. Didepannya terdapat halaman kecil dan teras. tempat yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi dan berbincang, katamu.
Aku mengiyakan saja. Lalu kau meneguk kopinya lagi dan meneruskan cerita. Kau bilang jika nanti rumahnya sudah ada, kau ingin aku membuatkan kopi untukmu setiap hari. Kemudian menemanimu berbincang. Aku hanya tersenyum.
Kopi pun akhirnya hampir habis. Mulai terasa pahit dari ampas kopi itu. Lalu kau bilang "Jika kita tak memiliki masa depan yang sama, aku ikhlas, kamu juga ya"
Aku hanya mengangguk dan menatap senyummu setelah berkata seperti itu.
Senja, selalu merekam semua percakapan kita. Kini ucapanmu diakhir tegukan kopi pun terjadi. Kita tak memiliki masa depan yang sama. Dan seperti yang kau bilang, aku harus ikhlas.
Kali ini pada senja yang berbeda. Tanpamu, tanpa kopi itu. Aku hanya sekedar mengenang. Percayalah, aku ikhlas.

Tuesday, 2 February 2016

Orang gila ini akhirnya menyadari bahwa ia gila. Menyadari semua omongan-omongan gila yang ia ucapkan. Lalu sekarang ia sedang berpura-pura untuk waras.