Saturday, 31 October 2015

Ini titik lelah, ketika raga mulai berada dipersimpangan jenuh dan lelah. Aku tak bermaksud menyerah. Namun kali ini, biarkan aku beristirahat sejenak. Bersandar pada bahu yang menopang segala keresahan.
Aku sesak, entah gegara apa. Aku ingin menangis, namun mata ini kering, bak sungai dalam kemarau panjang. Sudahlah, aku lelah.
Biarkan waktu ini terhenti, Tuhan. Aku ingin beristirahat. Barang sehari saja.

Wednesday, 21 October 2015

Sebait kata dari ujung sana. Sebait rasa yang menunggu untuk disampaikan. Sebait doa yang menunggu untuk dikabulkan. Sepasang raga yang menunggu untuk dipertemukan. Dan, sebait janji yang menunggu untuk ditepati. Aku rindu.
Seutas tali mengantarkan pesan dari angin sebrang. Pesan yang manis dari senja dibalik perbukitan. Dari tempat kau memijak bumi saat ini.
Dan ini, pesan termanis yang aku dapat. Tanpa suara, tanpa perlu banyak berkata, kau membuat satu sentuhan lembut (lagi). Aku selalu menikmati itu dan segalanya darimu.

Sunday, 18 October 2015

Malam ini, aku masih meneguk kopi yang sama. Kopi yang tersaji bersamaan dengan tulisan tentangmu berawal.
Setiap tegukannya masih terasa khas. Dan begitupun setiap bait saat aku menikmatinya.
Ini kebiasaan yang sudah sangat lampau. Aku memulainya dengan begitu saja.
Ini tak akan pernah berakhir, karena aku sudah dilanda candu, kepada kopi ini dan setiap bait yang tercipta gegaramu.
Tulisan, tak sekedar kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat, lalu baris, lalu halaman, lalu buku, lalu buku-buku.
Semua jadi sebuah rangkaian alur waktu yang tercatat sebagai cerita.
Aku melakukannya.

Sunday, 4 October 2015

Ini sebuah berlian. Aku titipkan padamu untuk kau taruh digenggaman. Tak usah kau masukan dalam kotak. Biarkan, biarkan saja berlian itu digenggamanmu. Jika orang lain tahu kau sedang menggenggam berlian, biarkan. Mungkin mereka memperhatikan apa yang kau genggam. Tak perlu kau umbar nerlian itu, cukup kau jaga saja, sebaik yang kau bisa.

Saturday, 3 October 2015

Pagi selalu tak membiarkan aku untuk bernafas lega. Karena setiap aku menarik nafas, rindu selalu menyergap dada, dan itu membuat sesak, sungguh.
Ini rindu yang selalu hadir begitu saja, takdiundang namun selalu ada, dan ini membuat sesak, sungguh.
Aku tak ingin merindukanmu, namun ini lah yang terjadi. Setiap pagi ketika menghelas nafas, rindu ini membuatku sesak, sungguh.

Friday, 2 October 2015

Ini tak sebatas rindu. Ini sebuah penantian dari jemari yang kesepian. Kosongnya genggaman ini telah membiarkan rindu mengisi setiap celahnya.
Aku yang kala itu masih bisa menggenggammu erat. Selalu menjadi hal yang aku nanti. Setiap kali tangan kita saling bersentuhan, aku hanya ingin menggenggamnya erat lalu berkata, "Aku bersyukur akan semua ini dan aku bersyukur atas keberadaan kita dengan segalanya yang terjadi pada kita, Aku menyayangimu."