Thursday, 24 April 2014

Janji yg pertama yg seharusnya terlebih dahulu ditepati, saya pikir.

Wednesday, 23 April 2014

Dan ketika cirinya tak nampak lagi, mungkin saat itu lelah mendera jiwa yg sedang berlayar, entah tanpa peta atau bahkan tanpa nahkoda. Arus laut yg membuat itu berjalan semakin gila. Ya, anggap saja begitu. Kosong, dan bergerak tak tentu arah, ya, gila.

Tuesday, 22 April 2014

Aku yakin Tuhan mengutusmu untuk berjalan denganku beriringan. Hidup kita yang telah berjodoh, kaa. Dan waktu, tak pernah benar-benar habis, kita hanya melewatinya. Ya, dan aku tak pernah ingin waktu itu habis. Biarkan semua yang kita lakukan menjadi rutinitas seperti matahari yang rutin menyinari bumi. Begitu juga kita, berjalan beriringan dengan waktu yg tak pernah berhenti menemani. Ya, kita sangat menginginkan waktu itu, untuk aku dan segala rutinitas denganmu. Dan aku butuh kamu.
Dan tak sepantasnya menggenggam embun dgn erat, dan akhirnya ia akan lebih cepat jatuh. Merasakan semua haru ketika itu harus benar-benar menghilang. Embun dan segalanya tak pernah hadir abadi, namun biar ku nikmati sekarang meski tak pernah tau apa yg akan terjadi sedetik berikutnya kehidupan.

Monday, 21 April 2014

. . .

Aku menemui dihujung doa malam ini, bertemu dengan kesejukan abadi yg menyelimuti, membiarkan kita saling merasa saat kita menatap langit yang sama, merindu saat jarak yang berjauhan. Nikmati ini, dan rasakan bahwa kita sudah benar-benar terikat kaa. Temui aku dihujung mimpi malam ini.